Posted by: sokongsalaf | March 16, 2007

Pengikut Salafi Menyesatkan Ikhwan Muslimin (IM)

Melihat Kesesatan Ikhwanul Muslimun

Ikhwanul Muslimin adalah pergerakan Islam – yang didirikan oleh Hasan Al-Banna (1906-1949 M) di Mesir pada tahun 1941 M. Diantara tokoh-tokoh pergerakan itu ialah : Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba’i, dan lain sebagainya.

Sejak awal mula didirikan pergerakan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani, seorang penganut Syi’ah Babiyah, yang berkeyakinan wihdatul wujud, bahwa kenabian dan kerasulan diperoleh lewat usaha, sebagaimana halnya menulis da mengarang. Dia – Jamaludin Al-Afghani- kerap mengajak kepada pendekatan Sunni-Syiah, bahkan juga mengajak kepada persatuan antar agama (lihat dakwah Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Islam. Oleh Farid bin Ahmad bin Manshur hal.
36).

Gerakan itu lalu bergabung ke banyak negara seperti: Syiria, Yordania, Iraq, Libanon, Yaman, Sudan dan lain sebagainya. (lihat Al-Mausu’ah Al-Muyassarah hal. 19-25). Ia (Jamaludin Al-Afghani) telah dihukumi/dinyatakan oleh para ulama negeri Turki, dan sebagian masyayikh Mesir sebagai orang Mulhid, kafir, zindiq, dan keluar dari Islam.

Farid bin Ahmad bin Manshur menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani pada beberapa hal, diantaranya:
1. Menempatkan politik sebagai prioritas utama
2. Mengorganisasikan secara rahasia
3. Menyerukan peraturan hukum demokrasi
4. Menghidupkan dan menyebarkan seruan nasionalisme
5. Mengadakan peleburan dan pendekatan dengan Syiah Rafidhah, berbagai
kelompok sesat, bahkan kaum Yahudi dan Nasharani. (lihat Ad-Dakwah hal 47)

Oleh sebab itu, jamaah Ikhwanul Muslimin banyak memiliki penyimpangan dari kaidah-kaidah Islam yang dipahami As-Salaf As-Shalih. Di antara penyimpangan tersebut misalnya:

Tidak memperhatikan masalah aqidah dengan benar

Bukti nyata bahwa jama’ah Ikhwanul Muslimin tidak memeperhatikan perkara aqidah dengan benar, adalah banyaknya anggota-anggota yang jatuh dalam kesyirikan dan kesesatan, serta tidak memiliki konsep aqidah yang jelas. Hal itu juga bahkan terjadi pada para pemimpin dan tokoh-tokohnya, yang menjadi ikutan bagi anggota-anggotanya seperti: Hasan Al-Banna, Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba’i dan lain sebagainya.

Seorang tokoh Islam Muhammad bin Saif Al-A’jami menceritakan bahwa Umar Tilimsani yang menjabat Al-Mursyidu Al-‘Am dalam organisasi Ikhwanul Muslimin dalam jangka waktu yang lama, pernah menulis buku yang berjudul Syahidu Al-Mihrab Umar bin Al-Khattab (Umar bin Al-Khattab yang wafat syahid dalam mihrab) yang penuh dengan ajakan kepada syirik, menyembah kuburan, membolehkan beristighatsah kepada kuburan dan berdoa kepada Allah I disamping kubur.

Tilimsani juga menyatakan bahwa kita tidak boleh melarang dengan keras penziarah kubur yang melakukan amalan seperti itu. Coba simak teks perkataannya pada hal 225-226: Sebagian orang menyatakan bahwa Rasulullah memohonkan ampun untuk mereka (penziarah kubur) tatkala beliau masih hidup saja. Tetapi saya tidak mendapatkan alasan pembatasan itu pada masa hidup beliau saja. Dan di dalam Al-Quran, tidak ada yang menunjukkan adanya pembatasan tersebut.

Di sini, dia menganggap bahwa memohon kepada Rasulullah sesudah kematian beliau, beristighatsah dan beristghfar dengan perantaraannya, hukumnya boleh-boleh saja. Pada hal 226 dia juga menyatakan: Oleh karena itu saya cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa beliau telah memohonkan ampunan dikala beliau masih hidup, maupun sesudah matinya – bagi siapa yang mendatangi kuburan yang mulia.

Pada halaman yang sama dia juga menyebutkan :Oleh karena itu, kita tidak perlu berlaku keras dalam mengingkari orang yang meyakini karamah para wali, sambil berlindung kepada mereka di kuburan-kuburan mereka yang disucikan, berdoa kepada
mereka tatkala tertimpa kesusahan. Yang juga mereka yakini bahwa karamah para wali tersebut termasuk kemu’jizatan para nabi.

Kemudian pada halaman 231 ia menyatakan: Maka kita tidak perlu memerangi wali-wali Allah dan orang-orang yang menziarahi serta berdoa di samping kuburan-kuburan mereka.. Demikianlah, tidak ada satupun bentuk syirik terhadap kuburan yang tidak dibolehkan sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mursyidu Al-‘Am dari Ikhwanul Muslimin itu. Karena kegandrungannya dan kecintaannya yang mendalam terhadap bentuk-bentuk perbuatan syirik dan kufur semacam inilah, sehingga Tilimsani menyatakan: Maka kita tidak perlu memerangi (orang yang mereka anggap) wali-wali Allah dan orang-orang yang menziarahi serta berdoa disamping kuburan-kuburan mereka. Tilimsani sendiri juga hidup di Mesir yang terdapat banyak kuburan-kuburan dimana dilakukakan syirik terbesar, bahkan lebih besar dari syirik ummat jahiliyah pertama. Kuburan-kuburan dijadikan tempat berthawaf dan tempat memohon segala sesuatu yang seharausnya hanya ditujukan kepada Allah I. Di antara yang mereka anggap wali, kebanyakannya adalah kumpulan orang-orang zindiq dan mulhid, seperti: Sayyid Da’iyyah fathimi yang tak pernah melakukan shalat.

Diantaranya juga ada kaum sufi yang keblinger, seperti: Syadzili, Dasuki, Qonawi dan lain sebagainya, yang ada disetiap kota dan pedesaan. Orang-orang itulah yang jadi wali-wali mereka. dan kuburan-kuburan mereka itulah yang dipublikasikan oleh Al-Mursyidu Al-‘Am/pemimpin umum dari Ikhwanul Muslimin itu.

Dia kembali menyatakan pada halaman 231 sebagai berikut: Meskipun hati saya sudah demikian cinta, suka dan bergantung kepada wali-wali Allah itu, meskipun saya amat gembira dan senang menziarahi mereka di tempat-tempat kediaman abadi mereka dengan melakukan hal-hal merusak aqidah tauhid – menurut anggapannya – akan tetapi saya tidak berorientasi penuh untuk mempropagandakannya. Hal itu hanya sebatas soal intuisi/perasaan. Dan saya katakan kepada mereka yang bersikap ekstrim dalam mengingkarinya: Tenanglah, di dalam masalah ini tidak ada perbuatan syirik, penyembahan berhala, maupun ilhad/kekufuuran.

Maka apalagi yang bisa diharapkan dari keyakinan yang merancukan aqidah dan tauhid, sehingga berdoa kepada orang yang sudah mati disamping kuburan-kuburan mereka kala ditimpa kesusahan dianggap hanya soal perasaan yang tidak mengandung
syirik dan penyembahan berhala, seperti yang diungkapkan Al-Mursyidu Al-‘Am dari
Ikhwanul Muslimun tersebut ?

Mushthafa As-Siba’i, Al-Mursyidu Al-‘Am dari Ikhwanul Muslimin dari Syiria pernah menggubah qashidah yang dibacakannya di kuburan Nabi. Yang di antara bait-baitnya adalah: Wahai tuanku, wahai kekasih Allah. Aku datang diambang pintu kediamanmu mengadukan kesusahanku karena sakit. Wahai tuanku, telah berlarut rasa sakit dibadanku. Karena sangat sakitnya, akupun tak dapat mengantuk maupun tidur….. (lihat Al-Waqafat hal. 21-22).

Dari kedua bait diatas, kita dapat memahami bahwa dia telah melakukuan istighatsah kepada Rasulullah yang jelas merupakan perbuatan syirik yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah-Nya.

Hasan Al-Banna juga mengambil aqidah dari thariqot sufiah quburiah yang bernama Al-Hashofiah. Dia berkata dalam kitabnya Mudzakkirot Ad-Dakwah Ad-Adalah’iah hal-27 :Aku bersahabat dengan para anggota kelompok hasafiah di Damanhur. Dan aku selalu hadir setiap malam (bersama mereka) di mesjid At-Taubah.

Berkata Jabir Rozaq dalam kitabnya Hasan Al-Banna bi Aqlami talamidzatihi wa ma’asirihi hal-8 :Dan di Damanhur mejadi kokohlah hubungan Hasan Al-bana dengan anggota-anggota al-Hashofiah,dan beliau selalu hadir setiap malam bersama mereka masjid at-Taubah. Dia ingin mengambil (pelajaran) thariqot mereka sehingga berpindah darii tingkatan mahabbah ke tingkatan at-taabi’ al-mubaaya(lihat Da’wah al-Ikhwan al-Muslimin hal-63)

Bahkan Hasan Al-Banna sendiripun sebagai pendiri jamaah Ikhwanul Muslimin, nampak sebagai orang yang awam dalam perkara aqidah tauhid. Disebutkan dalam buku Al-Waqafat hal. 21-22, bahkan dia pernah berkata:Dan doa kepada Allah ababila disertai tawassul/mengambil perantaraan salah satu makhluknya adalah perselisihan furu’ dalam cara berdoa, dan bukan termasuuk perkara aqidah. Dalam masalah asma’ dan sifat Allah, dia termasuk pengikut madzhab Tafwidh, iaitu madzhab yang tidak mau tahu dan meyerahkan begitu saja perkara asma’ dan sifat Allah kepada-Nya, tanpa meyakini apa-apa. Itu adalah madzhab sesat, bukan sebagaimana madzhab As-Salaf As-Shalih yang meyakini makna-makna asma’ dan sifat Allah, namun menyerahkan hakikat/bagaimana asma’ dan sifat tersebut kepada-Nya.

Hasan Al-Banna menyatakan dalam buku Al-Aqaid hal. 74: Sesungguhnya pembahasan dalam masalah ini (asma’ dan sifat), meski dikaji secara panjang lebar, akhirnya akan menghasilkan kesimpulan yang sama, yaitu tafwidh (tersebut di atas).

Tokoh besar mereka yang lain yang serupa keadaannya adalah Sa’id Hawwa. Dia beranggapan bahwa umat Islam pada setiap masanya, (lebih banyak -red) yang beraqidah Asy-‘Ariyyah-Maturidiyyah (termasuk golongan pentakwil sifat).

Sehingga dengan itu beliau berangapan bahwa itulah aqidah yang sah dalam Islam. (lihat jaulah fil fiqhain – Sa’id Hawwa).

Sayyid Quthub pun memiliki aqidah wihdatul wujud. Dia berkata dalam kitabnya Dzilalu Al-Qur’an jilid 6 hal-4002 :Hakekat yang ada adalah wujud yang satu. Maka di alam ini tidak ada yang hakekat kecuali hakekat Allah. Dan di sana tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya. Perwujudan selain Allah hanyalah sebagai perwujudan yang bersumber dari perwujudan yang hakiki itu.

Selain itu dia juga tidak bisa membedakan antara tauhid rububiah dan tauhid uluhiah. Dan dia menyangka bahwa yang menjadi perselisihan antara para Nabi dengan umat mereka adalah dalam masalah tauhid rububiah bukan uluhia. Dia berkata dalam Dziilalu Al-Qur’an 4/1847 : Bukanlah perselisihan seputar sejarah antara jahiliah dan Islam, dan bukan pula peperangan antara kebenaran dan thogut pada masalah uluhiah Allah ….dan juga perkataannya dalam hal-1852: Hanya saja perselisihan dan permusuhan adalah pada masalah siapakah Rob manusia yang menghukumi manusia dengan syari’at-Nya dan mengatur mereka dengan perintah-Nya dan memerintahkan mereka untuk beragama dan taat kepada-Nya (lihat Adwa’un islahiah karya Syaikh Robi’ pada hal-65).

Menghidupkan bid’ah

Jamaah Ikhwanul Muslimin juga banyak sekali menghidupkan bidah. Sa’id Hawwa menyatakan dalam bukunya At-Tarbiyyah Ar-Ruhiyyah (pembinaan mental): Ustadz Al-Banna beranggapan bahwa menghidupkan hari-hari besar Islam (selain dua hari ‘ied), adalah termasuk tugas harakah-harakah (gerakan) Islam. Beliau juga menganggap bahwa suatu hal yang aksiomatik alias pasti, kalau dikatakan bahwa pada zaman modern ini memperingati hari besar semacam maulid nabi dan yang sejenisnya, dapat diterima secara fiqih dan harus mendapat prioritas tersendiri.

Dikisahkan juga oleh Mahmud Abdul Halim dalam bukunya Ahdats Shana’atha At-Tarikh (1/109) bahwa ia sering bersama-sama Hasan Al-Banna menghadiri maulid nabi. Ia (Hasan AL-Banna) sendiri terkadang maju kepentas untuk menyanyikan nasyid (nyanyian) maulid nabi dengan suara keras dan nyaring.

Setelah menukil banyak kisah Al-Banna tersebut, Syaikh Farid berkomentar:
semoga Allah memerangi pelaku-pelaku bidah. Alangkah bodohnya mereka, alangkah lemahnya akal mereka. Sesungguhnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilakukan bahkan oleh anak kecil sekalipun.

Dalam lembaran-lembaran majalah Ad-Dakwah, yang dipimpin oleh Umar At-Tilimsani tatkala dia masih menjabat salah satu Mursyid partai Ikhwanul Muslimin (nomor 21 hal 16/Rabi’ul Awwal 1398 H), tercetus banyak ungakapan yang penuh dengan kebidahan dan ghuluw (pengkhutusan/berlebih-lebihan) terhadap Nabi. Di antaranya dalam makalah di bawah judul: fi dzikra maulidika ya dhiya’ Al-Alamin (dalam memperingati hari kelahiranmu, wahai sinar alam semesta)

Ta’ashshub / fanatik terhadap pendapat alim ulamanya

Syaikh Muqbil menyatakan dalam Al-makhraj minal fitan hal. 86:(banyak) dari kalangan pengikut Ikhwanul Muslimun yang mengetahui bahwa mereka bodoh dalam masalah dien. Apabila kita menyatakan kepadanya: ini halal, atau ini haram adalah sudah kita tegakkan dalil-dalilnya, ia akan mengelak sambil menjawab:

Yusuf Qordhawi di dalam al-halal wal haram bilang begini, Sayyid Sabiq dalam fiqhus sunnah, atau Hasan Al-Banna di dalam Ar-Rasail atau Sayiid Quthub dalam tafsir fi dzi lalil Quran bilang begini! Bolehkah dalil-dalil yang jelas dipatahkan dengan ucapan-ucapan mereka?

Karena itulah banyak diantara mereka yang masih meremehkan hukum merokok misalnya, yang telah ditegaskan keharamannya oleh ulama ahlul hadits , lewat berbagai tinjauan, karena mengikuti fatwa syaikh mereka Yusuf Qordhawi yang tidak jelas dalam menerangkan hukumnya.


Manhaj dakwah yang melenceng dari syari’ah

Kerusakan manhaj dakwah mereka diawali oleh propaganda Tauhidu As-Sufuf (menyatukan barisan) kaum muslimin yang mereka dengung-dengungkan. Di mana propaganda itu berkonotasi mengabaikan adanya berbagai penyimpangan aqidah yang
membaluti tubuh umat Islam Menurut mereka, cukup kita meneriakan : wa Islamah (wahai Islam), maka kita pun bersatu. Hasan Albana pernah berkata : Dakwah Ikhwanul Muslimin tidaklah ditujukan untuk melawan satu aqidah, agama, ataupun golongan, karena faktor pendorong perasaan jiwa para pengemban .dakwah jama’ah ini adalah berkeyakinan fundamental bahwa semua agama samawi berhadapan dengan musuh yang sama, yaitu atheisme (lihat qofilah Al-Ikhwan As-siisi 1/211).

Utsman Abdus Salam Nuh mengomentari ucapan itu dalam bukunya At-Thoriq ila Jama’ati Al-Umm halaman 173: Bagaimana bisa disebut dakwah Islamiah, kalau tidak
sudi memerangi aqidah-aqidah yang menyimpang, sedangkan Islam sendiri diturunkan untuk memberantas berbagai penyimpangan keyakinan dan membersihkan hati manusia dari keyakinan-keyakinan itu.

Inti pemahaman inilah yang akhirnya melahirkan gerakan yang disebut pan Islamisme, yang menyatukan umat Islam dengan berbagai keyakinannya di bawah satu panji.

Ikhwanul Muslimin juga banyak mempergunakan berbagai sarana yang tidak sesuai dengan syari’at untuk mengembangkan dakwahnya. Diantaranya : Mengadakan pertunjukan sandiwara. Dalam hal ini, Syaikh Muqbil memberikan tanggapan :Sesungguhnya pertunjukan sandiwara itu, kalaupun tidak dikatakan dusta, amatlah dekat dengan kedustaan. Kita meyakini keharamannya, selain itu juga bukan merupakan sarana dakwah yang dipergunakan ulama kita terdahulu. Imam Ahmad meriwayatkan satu hadits dari Ibnu Mas’ud , bahwasanya Rosulullah bersabda:

Manusia yang paling keras disikda hari kiamat nanti ada tiga : Orang yang membunuh seorang nabi atau dibunuh olehnya, seorang pemimipin yang sesat dan menyesatkan, dan pemain lakon (mumatsil).

Beliau melanjutkan :Yang dimaksud mumatsil disitu adalah pelukis atau orang yang melakonkan perbuatannya di hadapan orang lain. Sebagaimana ditegaskan dalam kamus. (lihat Al-Makhroj ‎Minal Fitan halaman 90).

Para ulama juga lebih mengharamkan (saandiwara) lagi, tatkala sering terjadi dalam sandiwara seseorang harus memerankan diri sebagai orang kafir, bahkan penyembah berhala yang mempraktekkan ibadahnya di hadapan patung. Dan banyak lagi yang lainnya.


Mendahulukan urusan politik daripada syari’at

Meski secara lahir, jama’ah Ikhwanul Muslimin selalu menggembar-gemborkan harus tegaknya kekuasaan Islam, namun secara mengenaskan mereka hanya menjadikan itu sebagai selogan umum yang aplikasinya meninggalkan dakwah tauhid dan menjejali orang awam hanya dengan propaganda politik mereka. Contohnya, ketika mereka mengakui bahwa syarat pemmpin Islam yang ideal adalah ilmu dan taqwa, mereka justru mengangkat Mujadidi sebagai pemimpin Afghanistan, hanya demi menyenangkan banyak pihak termasuk dunia barat. Hal itu diungkapkan oleh Abdullah Al-Azhom dalam majalah Al-Jihad nomor 52 maret 1989 :Mujadidi adalah profil pemimpin ideal menurut dunia Internasional khususnya barat. Hal itu akan memuluskan jalan Afghanistan untuk menjadi negara yang diakui di dunia secara formal….. (At-Thoriq 214) juga akan kita dapati, bahwa para pengikut gerakan Ikhwanul Muslimin lebih banyak berbicara dan mengulas tentang politik daripada aqidah, dalam majalah, buku-buku bahkan di podim-podium, sampai-sampai dikala menyampaikan khotbah jum’at.

Masih banyak lagi penyimpangan dakwah Ikhwanul Muslimin yang tak mungkin dirinci disini satu persatu. Semuanya sudah banyak diulas ulang oleh para ulama ahlul Hadits. Yang jelas, gerakan ini turut membidani kelahiran berbagai gerakan sejenis di berbagai negara. Di Libanon sperti At-Tauhid, di Palestina Hammas, di Mesir Jama’ah Islamiah, di Aljazair FIS, di Malaisyia Darul Arqom, di Indonesia seperti NII (Negara Islam Indonesia) yang sebelumnya dikenal dengan Darul Islam atau DI TII, Al-Usroh, Komando Jihad, JAMUS (Jama’ah Muslimin), dan lain-lain.

@Nuur Fakhrul as-Shiddiq
YM: nawie83@yahoo.com
MSN: dimensi83@hotmail.com

http://groups.yahoo.com/group/PMH-UiTM

http://www.geocities.com/nawie83

http://www.e-siswa.net

http://www.al-ahkam.net


Responses

  1. lUAR BIASA TULISAN TERSEBUT. IA SANGGUP MENEMUKAN PENYIMPANGAN iKHWANUL mUSLIMIN YANG SENANTIASA BERTAUHID kEPADA aLLAH YAN ESA, BERDA’WAH SE[ANJANG WAKTU, RIDHA ISLAM SEBAGAI AGAMANYA, MUHAMMAD ADALAH RASULULLAH TELADANNYA. TOH MASIH DIANGGAP MENYIMPANG. PAHAM SAYA SANGAT SEDERHANA BAHWA KALAU GERAKAN DA’WAH ITU SUDAH BENAR LANTAS DIANGGAP MENYIMPANG MAKA TENTULAH ANGGAPAN ITU YANG MENYIMPANG. HINGGA BAGI SAYA TULISAN TERSEBUT TAK KURANG DARI TULISAN YANG TIDAK PATUT MENJADI PIJAKAN BAGI PENCARI KEBENARAN DAN KEARIFAN.

    WASSALAM

    YOUR ISLAMIC BROTHER

    TAQIUDDIN RAHIMI AL-BUGISI

  2. Kebenaran yang dibawa Rasul selalu dihujat dan dicemooh Abu jahal dan pengikutnya. Kenapa demikian karena itulah kebenaran sejati yang akan memaksa manusia untuk meninggalkan para thagut. Saya melihat Dakwah IM pun demikian, dakwah mereka yang sudah menyebar ke penjuru dunia ketika sudah membesar menjadi target pemberangusan para thagut. Itu karena haq dan bathil tidak akan pernah bersatu. Lihatlah para dai IM dari Al Banna bahkan sampai pada para dai yang sekarang senantiasa menjadi target pembasmian oleh para thagut. Kemudian setiap pribadi pasti memiliki kesalahan tapi jangan digeneralisir jadi fikroh umum IM. Anda anggota sebuah jamaah, saya yakin syekh anda adalah orang yang pernah berbuat kesalahan. Jadi tak perlu menuding kesalahan orang lain untuk memprovokasi toh ulama2 IM telah terbukti mempersembahkan diri mereka untuk Islam dan kaum Muslimin. Wassalam

  3. astahgfirullah…saudaraku
    cobalah berkaca pada nurani mu yang terdalam…apa kah kau merasa lebih baik dari hasan al banna, sayyid qutb dsb? apa kau merasa lebih pantas untuk masuk surga dibanding mereka…terhadap sifat sombong mu, aku berdoa semoga Allah memberi mu hidayah…

  4. Disini saya tambah lagi sebuah artikel mengenai penyelewengan seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yg ditulis oleh seorang ustaz dri U Imam Yamen. Semoga bermenfa’at.

    Kesilapan Syed Qutb ra yang diakui oleh ulama lainnya dan tokoh lainnya

    Berkata Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam bukunya Awliyat Al Harakah Al Islamiyah : “Dalam era ini muncul buku-buku ‘Asy Syahid’ Sayyid Quthb yang merupakan fasa terakhir dari pemikirannya yang mengkafirkan masyarakat (Islam) dan menunda dakwah sampai kepada keteraturan Islam dengan pembaharuan fiqh dan perkembangannya. Menghidupkan ijtihad serta mengajak untuk memisahkan diri secara perasaan dari masyarakat, memutus hubungan dengan orang lain, mengumumkan jihad fizik melawan seluruh manusia … ” (Awliyat hal. 110).

    Berkata Farid Abdul Khaliq, salah seorang tokoh besar Ikhwan Muslimun dalam kitabnya Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Haq halaman 115: “Kita mengetahui dari apa yang telah lalu bahawa munculnya pemikiran takfir di kalangan Ikhwan bermula dari penjara Qanathir di akhir tahun lima puluhan dan awal enam puluhan. Mereka terpengaruh oleh Sayyid Quthb dan pemikiran-pemikirannya. Mereka mengambil pemahaman darinya bahwa masyarakat ini dalam keadaan jahiliyah dan bahawasanya dia telah mengkafirkan pemerintah yang merasa asing dengan apa yang diturunkan Allah. Juga mengkafirkan rakyatnya kerana mereka ridha dengan hal itu”.
    Berkata Prof Dr Ali Gharishah, salah seorang tokoh besar Ikhwan Muslimun, sebagai berikut : “Dalam kejadian ini, terpecah satu kelompok dari kelompok Islam yang besar ketika keberadaan mereka di penjara-penjara … bersamaan dengan itu kelompok tersebut terlibat dengan pengkafiran kelompok Islam yang besar. Mereka masih tetap dalam pendapatnya tentang pengkafiran pemerintah, penolong-penolongnya serta masyarakat seluruhnya. Kemudian kelompok tersebut berpecah kembali menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing mengkafirkan yang lain … .” (Al Ittijahat Al Fikriyah Al Mu’ashirah hal. 279) .

    Pernyataan di atas telah membuktikan bahawa hal ini satu kejelasan di kalangan orang ramai yang besar dan terlibat dalam harakah dengan ikhlas akan kesilapan Syed Qutb ra namun kerana masalah satu jemaah tidak kurang mereka cuba menutup kesalahan Syed Qutb sehingga akhirnya fikrah dan pemahaman beliau yang salah itu terus tersebar tanpa dapat ditapis dan mereka tidak mempedulikannya asalkan jemaah ikhwan muslimun terus mendapat sambutan dengan nama besar Syed Qutb ra.

    Hal ini satu jenayah kepada Islam dan Syed Qutb ra…sebagai mereka yang menyayangi Syed Qutb ra sepatutnya membetulkan kesilapan beliau dan bukanlah menyebarkan kesalahan beliau dan merosakan umat Islam dengan fahaman yang salah ini.

    Bukankan Islam mengajar kepada kita bahawa kita mencintai kebenaran itu lebih besar dari kita mencintai pejuang kebenaran yang boleh salah dan benar ?

    Kesilapan dan Kecabulan Syed Qutb ra terhadap para sahabat ra

    Kesalahan Syed Qutb ra terhadap para sahabat ra dan menyindir dan memperlekehkan mereka ini akibat dari kejahilan Syed Qutb ra dalam memahami sirah Islam dan kelemahan beliau dalam ilmu rijal dan sanad hadith.

    Beliau bukanlah ulama yang mantap dalam ilmu riwayat Islam terutama dalam hadith dan sunnah kerana itu beliau tidak dapat memastikan antara kisah-kisah sahih dan palsu dan antara hadith-hadith yang sahih dan palsu dalam tulisan beliau.

    Beliau juga tidak dapat mentashihkan memastikan kebenaran kisah-kisah para sahabat sehingga akhirnya beliau banyak memburukan para sahabat akibat dari kelemahan beliau dalam mengetahui rupa-rupanya kisah-kisah tersebut hanyalah kisah dusta dan riwayat dari syiah yang bertujuan memburukan para sahabat.

    Khasnya kesilapan Syed Qutb ra ialah pada pemburukan peribadi sahabat baginda rasulullah seperti Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan dan Mu’awiyah radliallahu ‘anhuma.

    Syed Qutb ra tidak mengiktiraf kekhalifahan Saydina Utsman ra dan tidak menganggap layaknya Utsman menjadi khalifah Islam.

    Dia berkata : “Kami condong kepada anggapan bahwa khilafah Ali radliallahu ‘anhu adalah kelanjutan dari khilafah dua Imam sebelumnya (Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab). Adapun masa ‘Utsman merupakan celah antara keduanya.” (Al Adalah hal. 206).

    Mengapa? Hal ini setelah Sayyid mengatakan pada halaman sebelumnya tentang ‘Utsman sebagai berikut : “Sesungguhnya diantara kejelekan yang muncul adalah bahawa ‘Utsman mencapai khilafah dalam keadaan tua, telah lemah semangat Islamnya dan lemah keinginannya untuk tetap tegar menghadapi tipu daya Marwan dan tipu daya Bani Umayyah di dalamnya.” (Al Adalah (dalam terbitan Pustaka Salman) hal. 270).

    Sangat menyedihkan pejuang Islam seperti Syed Qutb ra terpedaya dengan cerita dan riwayat para sahabat yang dikotori oleh riwayat Syiah yang memburukan Utsman ra sehingga beliau sampai hati berkata menuduh Utsman itu sudah lemah iman dan semangat Islamnya.

    Bahkan dengan terang-terangan dia meragukan ruh Islam yang ada pada ‘Utsman, iaitu setelah Sayyid menyebutkan cerita-cerita tentang ‘Utsman yang membahagi-bahagikan harta pada keluarga dan kerabatnya (korupsi). Juga setelah menceritakan bahawa ‘Utsman mengangkat gabernor-gabernornya dari keluarganya sendiri, seperti Mu’awiyah dan Al Hakam radliallahu ‘anhuma dan selainnya. Kemudian dia berkata : ” … Dan bahawasanya para sahabat mengetahui penyelewengan dalam ruh Islam ini. Khalifah dengan ketuaan dan kepikunannnya tidak dapat memegang urusannya dari Marwan. Sesungguhnya sangat susah meragukan ruh Islam di dalam hati ‘Utsman. Tetapi juga sangat sulit memaafkan kesalahan-kesalahannya yang merupakan kesalahan fatal mengenai wilayah dan khilafahnya. Sedangkan dia seorang seorang tua renta yang dikelilingi oleh penipuan orang-orang jelek dari Bani Umayyah … .” (Al Adalah hal. 187, cet. kelima dan secara makna pada cet. ke-12 hal. 159, dan dalam terjemahan Pustaka Salman hal. 272).

    Kejahilan syed Qutb ra ini jelas dan mesti diterima dengan hati yang terbuka oleh pejuang Islam dan mengambil iktibar dari kesilapan beliau supaya jangan mengikuti jejak beliau dalam hal ini dan mengambil hal lain yang baik dari beliau dan menyedari bahaya kejahilan ilmu dalam dakwah takut terjadi seperti apa yang menimpa Syed Qutb.

    Mencela sahabat dan mengeji mereka merupakan suatu yang berdosa dan merbahaya. Ini jelas dari peringatan yang disebut oleh baginda rasulullah salallahualaihiwasalam : “Janganlah kamu mencela sahabat aku sesungguhnya demi zat yang jiwaku ditangan-Nya jika sekiranya bersedekah seorang kamu seperti bukit Uhud dari emas pun nescaya tidak akan dapat menandingi secupak dari sedekah mereka ataupun sebahagian dari nya” (hadith sahih riwayat Abu Said Al-Khudri).

    Bahkan lebih dahsyat Syed Qutb ra lantaran lemahnya pemahaman beliau pda sunnah mungkin kerana kurangnya masa mengkaji hadith-hadith baginda beliau terlupa membaca hadith yang diriwayatkan oleh Nu’man ibn Basyar ra dari Aishah ra bahawa baginda pernah bersabda kepada Utsman ra : “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan memakaikan engkau dengan sehelai jubah (khilafah) dan jika orang-orang munafiq mengehendaki engkau menanggalkannya maka janganlah engkau menuruti kehendak mereka sehingga engkau menemui aku (mati syahid) lalu diulang-ulang oleh baginda sebanyak tiga kali” (hadith sahih riwayat Ahmad dan juga Tirmidzi dan lain-lain dengan sanad yang tinggi).

    Jubah apakah lagi jika bukan kekhalifahan yang dipakaikan Allah kepada beliau selepas wafatnya Umar ra ? Jubah apakah lagi yang diingini oleh Munafiq untuk Utsman menanggalkannya dengan bersangatan ? Apakah sehelai pakaian biasa ? Tidak lain ialah kepimpinan khalifah Islam yang hanya munafiq yang bencikan Utsman dan ingin beliau tunduk atas permainan politik jahat mereka dari golongan syiah dan khawarij.

    Maka di manakah kedudukan Syed Qutb ra ? apakah bersama golongan munafiq atau bersama golongan salaf soleh ? jawapannya menyedihkan kerana beliau bersama mereka lantaran kejahilan dan kelemahan beliau dalam ilmu Islam yang sangat penting iaitu hadith dan sunnah dan ilmu riwayat.

    Sayyid Qutb ra mengecewakan kita apabila beliau memuji dan membela para pemberontak yang membunuh ‘Utsman.

    Dia berkata : ” … akhirnya, terjadilah pemberontakan atas ‘Utsman.

    Tercampur padanya kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kejelekan.Tetapi bagi yang memandang ini dengan ‘kaca mata Islam’ dan merasakan urusan ini dengan ‘ruh Islam’, pasti dia akan menetapkan bahwa pemberontakan tersebut secara keumuman lebih dekat kepada ‘ruh Islam’ dan arahannya daripada sikap ‘Utsman atau lebih tepatnya sikap Marwan dan orang-orang yang di belakangnya dari Bani Umayyah.” (Al Adalah hal.189 cet. ke-5 dan hal. 161, 162 cet. ke-12 dengan beberapa perubahan tetapi intinya sama, hanya pada cetakan terakhir ini dia menyebut bahwa hal itu karena pengaruh tipu daya Ibnu Saba’ dan dalam terjemahannya hal. 275).

    Sesungguhnya pandangan demikian ialah pandangan golongan Syiah, di bawah kaca mata munafiq, dengan ditemani oleh golongan khawarij dan ahlul bid’ah yang jatuhnya Syed Qutb ra dalam tidak sengajanya bersama golongan mereka lantaran kelemahan ilmu beliau dan kejahilan dalam sunnah rasulullah.

    Amatlah diharapkan umat Islam menyedari kesilapan beliau dan perlulah berhenti dari memuliakan beliau berlebih-lebihan kerana hal demikian takut mengakibatkan umat Islam lalai atas kesalahan beliau yang besar pada Islam akibat kejahilan dan kesalahan dan kelemahan dalam ilmu asas untuk perjuangan Islam iaitu pemahan kepada Aqidah yang sahih.

    Pemahaman kepada aqidah yang sahih, pemahaman terhadap sunnah rasulullah dan memiliki ilmu yang sahih dan penegtahuan mendalam menjadi faktor kebenaran dakwah dan panduan dalam perjalanan perjuangan bukan hanya semangat semata-mata.

    Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan dan kesilapan dan kemablilah wahai umat Islam dari ta’asub dan kembalilah kepada salaf soleh.

    Ustaz emran ahmad
    San’a yaman.

    Labels: Tazkirah

    posted by Ustaz emran at 5:37 PM
    Monday, September 19, 2005

  5. Dalam Islam ada satu lagi kaedah yg digunakan oleh ulama salaffussoleh, iaitu yg diberi nama Jahr wa ta’dil. kaedah ini tidak boleh di gunakan oleh org awam atau para penuntut ilmu. Hanya org org yg berilmu(ulamak) sahaja yg dibenarkan utk menjahr atau menta’dil seseorang itu dgn tujuan utk menyelamatkan ummat dri terpengaruh dgn fahaman fahaman yg menyeleweng dri manhaj Islami.

    Allahua’lam

  6. Sifat ketaksuban kepada individu individu tertentu yg tidak ma’sum terkadang boleh membuat seseorang itu tak bisa menerima sesuatu yg hak walau pun yg hak itu dtgnya dri Alloh dan Rosulnya.

  7. Sifat ketaksuban kepada individu individu tertentu terkadang boleh membuatkan seseorang itu tidak bisa menerima yg hak , walau pun yg hak itu dtgnya dri Alloh & Rosul.

  8. assalamu’alaikum. alhamdulillah
    setelah melihat apa yang diuraika tentang kejahatan dalam IM diatas. dengan penuh keyakinan saya katakan bahwa itu adalah benar. hendaklah kita melihat semua itu dengan kac amata islam bukan dengan fanatik kelompok, jamaah, golongan atau partai tertentu, lalu kita menolak kebenaran dan nasehat yang disampaikan kepada kita. memang dakwah IM adalah diatas dakwah banyak toleransi, terkadang mengebaikan masalah prinsip, tidak bersemangat terhadap sunnah, masih banyak bergelimang diatas bidah, memiliki ciri seperti khawarij (demonstrasi kepada pemerintah). maaf semua ini kami katakan atas dasar kebenaran karena kami snediri pernah bergabung didalamny (IM), ada tulisan yang cukup bagus untuk dibaca kaum muslimin tentang siapa IM dan para tokohnya, ditulis oleh Ulama dari Saudi Selatan Syaikh Yahya An-Najmi rahimahullah. insyaallah kita aka banyak dapat manfaat dan faedah dari membaca buku itu, dijelaskan secara gamblang tentang pergerakan IM dan tokohnya, hingga kesaksian penulis sendiri yang melihat kondisi dan berhadapan langsung dengan Ikhwani. dilihat dari prinsip-prinsip Islam maka kami katakan bahwa IM adalah suatu hizbiyah, yang mana hizbiyah itu terlarang dalam islam. IM adalah jamaah harakah yang dakwahnya jauh menyimpang dari jalannya ahlus sunnah wal jamaah. IM megakui bahwa jalan dakwah mereka adalah salafi, tapi sayang hakikat ini jauh berbeda ibarat jauh api dari panggang. justru mereka banyak menyelisihi jalannya salafi, mereka banyak melakukan bidah, dan bahkan mlanggar prinsip semata-mata untuk memperbanyak jumlah pengikutnya, atau agar partainya menang. wahai saudaraku kaum muslimin sadarlah kita bahwa dakwah ini bukan diatas kepentingan politik, jamaah, atau kelompok tertentu. hendaklah kita mengambil jalannya para ahlus sunnah, yang jalan mereka lebih selamat, aman, adil, dan bijak. yang mana jalan itu pula dijamin oleh rasulullah merupakan jalan yang selamat. Semoga Allah slalu membimbing kita diatas jalannya yang haq.

  9. Assalamuakaikum Afwan semua, pada kolum ini Tuan Moderator ijinkan Ana melakukan copy and paste tentang keterangan mengenai ciri ciri kelompok khawarij yang di ambil dari sebuah blogger Islami Indonesia. Moga moga dapat di menfa’atkan bersama. Ma’af kali ini Ana tak kesempatan untuk menulis.

    CIRI CIRI KHAWARIJ

    Khawarij mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat yang menonjol. Sebaik-baik orang yang meluruskan sifat-sifat ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan sifat-sifat kaum ini dalam hadits-haditsnya yang mulia.

    Disini akan dipaparkan penjelasan sifat-sifat tersebut dengan sedikit keterangan, hal itu mengingat terdapat beberapa perkara penting, antara lain :

    * Dengan mengetahui sifat-sifat ini akan terbukalah bagi kita ciri-ciri ghuluw (berlebih-lebihan) dan pelampauan batas mereka, dan tampaklah di mata kita sebab-sebab serta alasan-alasan pendorong yang menimbulkan hal itu. Dalam hal yang demikian itu akan menampakkan faedah yang tak terkira.
    * Keberadaan mereka akan tetap ada hingga di akhir zaman, seperti dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu riwayat. Oleh karenanya mengetahui sifat-sifat mereka adalah merupakan suatu perkara yang penting.
    * Dengan mengetahui sifat mereka dan mengenali keadaannya akan menjaga diri dari terjatuh ke dalamnya. Mengingat barang siapa yang tidak mengetahui keburukan mereka, akan terperangkap di dalamnya. Dengan mengetahui sifat mereka, akan menjadikan kita waspada terhadap orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, sehingga kita dapat mengobati orang yang tertimpa dengannya.

    Berkenan dengan hal ini akan kami paparkan sifat-sifat tersebut berdasarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

    1. Suka Mencela dan Menganggap Sesat

    Sifat yang paling nampak dari Khawarij adalah suka mencela terhadap para Aimatul huda (para Imam), menganggap mereka sesat, dan menghukum atas mereka sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran. Sifat ini jelas tercermin dalam pendirian Dzul Khuwaishirah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataannya : “Wahai Rasulullah berlaku adil lah”. (Hadits Riwayat Bukhari VI/617, No. 3610, VIII/97, No. 4351, Muslim II/743-744 No. 1064, Ahmad III/4, 5, 33, 224)

    Dzul Khuwaishirah telah menganggap dirinya lebih wara’ daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghukumi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang curang dan tidak adil dalam pembagian. Sifat yang demikian ini selalu menyertai sepanjang sejarah. Hal itu mempunyai efek yang sangat buruk dalam hukum dan amal sebagai konsekwensinya. Berkata Ibnu Taimiyah tentang Khawarij : “Inti kesesatan mereka adalah keyakinan mereka berkenan dengan Aimmatul huda (para imam yang mendapat petunjuk) dan jama’ah muslimin, yaitu bahwa Aimmatul huda dan jama’ah muslimin semuanya sesat. Pendapat ini kemudian di ambil oleh orang-orang yang keluar dari sunnah, seperti Rafidhah dan yang lainnya. Mereka mengkatagorikan apa yang mereka pandang kedzaliman ke dalam kekufuran”. (Al-Fatawa : XXVIII/497)

    2. Berprasangka Buruk (Su’udzan)

    Ini adalah sifat Khawarij lainnya yang tampak dalam hukum Syaikh mereka Dzul Khuwaishirah si pandir dengan tuduhannya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ikhlas dengan berkata :

    “Artinya : Demi Allah, sesungguhnya ini adalah suatu pembagian yang tidak adil dan tidak dikehendaki di dalamnya wajah Allah”. (Hadits Riwayat Muslim II/739, No. 1062, Ahmad IV/321)

    Dzul Khuwaishirah ketika melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta kepada orang-orang kaya, bukan kepada orang-orang miskin, ia tidak menerimanya dengan prasangka yang baik atas pembagian tersebut.

    Ini adalah sesuatu yang mengherankan. Kalaulah tidak ada alasan selain pelaku pembagian itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam cukuplah hal itu mendorong untuk berbaik sangka. Akan tetapi Dzul Kuwaishirah enggan untuk itu, dan berburuk sangka disebabkan jiwanya yang sakit. Lalu ia berusaha menutupi alasan ini dengan keadilan. Yang demikian ini mengundang tertawanya iblis dan terjebak dalam perangkapnya.

    Seharusnya seseorang itu introspeksi, meneliti secara cermat dorongan tindak-tanduk dan maksud tujuan serta waspada terhadap hawa nafsunya. Hendaklah berjaga-jaga terhadap manuver-manuver iblis, karena dia banyak menghias-hiasi perbuatan buruk dengan bungkus indah dan rapi, dan membaguskan tingkah laku yang keji dengan nama dasar-dasar kebenaran yang mengundang seseorang untuk menentukan sikap menjaga diri dan menyelamatkan diri dari tipu daya setan dan perangkap-perangkapnya.

    Jika Dzul Khuwaishirah mempunyai sedikit saja ilmu atau sekelumit pemahaman, tentu tidak akan terjatuh dalam kubangan ini.

    Berikut kami paparkan penjelasan dari para ulama mengenai keagungan pembagian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hikmahnya yang tinggi dalam menyelesaikan perkara.

    Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah : “Pada tahun peperangan Hunain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi ghanimah (rampasan perang) Hunain pada orang-orang yang hatinya lemah (muallafah qulubuhum) dari penduduk Najd dan bekas tawanan Quraisy seperti ‘Uyainah bin Hafsh, dan beliau tidak memberi kepada para Muhajirin dan Anshar sedikitpun.

    Maksud Beliau memberikan kepada mereka adalah untuk mengikat hati mereka dengan Islam, karena keterkaitan hati mereka dengannya merupakan maslahat umum bagi kaum muslimin, sedangkan yang tidak beliau beri adalah karena mereka lebih baik di mata Beliau dan mereka adalah wali-wali Allah yang bertaqwa dan seutama-utamanya hamba Allah yang shalih setelah para Nabi dan Rasul-rasul.

    Jika pemberian itu tidak dipertimbangkan untuk maslahat umum, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi pada aghniya’, para pemimpin yang dita’ati dalam perundangan dan akan memberikannya kepada Muhajirin dan Anshar yang lebih membutuhkan dan lebih utama.

    Oleh sebab inilah orang-orang Khawarij mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikatakan kepada beliau oleh pelopornya : “Wahai Muhammad, berbuat adillah. Sesungguhnya engkau tidak berlaku adil”. dan perkataannya : “Sesungguhnya pembagian ini tidak dimaksudkan untuk wajah Allah …..”. Mereka, meskipun banyak shaum (berpuasa), shalat, dan bacaan Al-Qur’annya, tetapi keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah.

    Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara’ dan zuhud, akan tetapi tanpa disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahwa pemberian itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat, bukan kepada para pemimpin yang dita’ati dan orang-orang kaya itu, jika didorong untuk mencari keridhaan selain Allah -menurut persangkaan mereka-.

    Inilah kebodohan mereka, karena sesungguhnya pemberian itu menurut kadar maslahah agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang keta’atan kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu jauh lebih utama. Pemberian kepada orang-orang yang membutuhkan untuk menegakkan agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikannya lebih agung daripada pemberian yang tidak demikian itu, walaupun yang kedua lebih membutuhkan”. (Lihat Majmu’ Fatawa : XXVIII/579-581, dengan sedikit diringkas).

    Untuk itu hendaklah seseorang menggunakan bashirah, lebih memahami fiqh dakwah dan maksud-maksud syar’i, sehingga tidak akan berada dalam kerancuan dan kebingungan yang mengakibatkan akan terhempas, hilang dan berburuk sangka serta mudah mencela disertai dengan menegakkan kewajiban-kewajiban yang terpuji dan mulia.

    3. Berlebih Dalam Beribadah

    Sifat ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

    “Artinya : Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, yang mana bacaan kalian tidaklah sebanding bacaan mereka sedikitpun, tidak pula shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun, dan tidak pula puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun”. (Muslim II/743-744 No. 1064).

    Berlebihan dalam ibadah berupa puasa, shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an merupakan perkara yang masyhur di kalangan orang-orang Khawarij. Dalam Fathu Al-Bari, XII/283 disebutkan : “Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura’ (ahli membaca Al-Qur’an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta’wil Al-Qur’an dengan ta’wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendapatnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu’ dan lain sebagainya”.

    Ibnu Abbas juga telah mengisyaratkan pelampauan batas mereka ini ketika pergi untuk mendebat pendapat mereka. Beliau berkata : “Aku belum pernah menemui suatu kaum yang bersungguh-sungguh, dahi mereka luka karena seringnya sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai gamis yang murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang tidur karena banyak berjaga di malam hari”. (Lihat Tablis Iblis, halaman 91). Pernyataan ini menunjukkan akan ketamakan mereka dalam berdzikir dengan usaha yang keras.

    Berkata Ibnul Jauzi : “Ketika Ali Radhiyallahu ‘Anhu meninggal, dikeluarkanlah Ibnu Maljam untuk dibunuh. Abdullah bin Ja’far memotong kedua tangan dan kedua kakinya, tetapi ia tidak mengeluh dan tidak berbicara. Lalu dicelak kedua matanya dengan paku panas, ia pun tidak mengeluh bahkan ia membaca :

    “Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (Al-’Alaq : 1-2)

    Hingga selesai, walaupun kedua matanya meluluhkan air mata. Kemudian setelah matanya diobati, ia akan dipotong lidahnya, baru dia mengeluh. Ketika ditanyakan kepadanya : “Mengapa engkau mengeluh ?. “Ia menjawab ; “Aku tidak suka bila di dunia menjadi mayat dalam keadaan tidak berdzikir kepada Allah”. Dia adalah seorang yang ke hitam-hitaman dahinya bekas dari sujud, semoga laknat Allah padanya”. (Tablis Iblis, hal. 94-95).

    Mekipun kaum Khawarij rajin dalam beribadah, tetapi ibadah ini tidak bermanfa’at bagi mereka, dan mereka pun tidak dapat mengambil manfaat darinya. Mereka seolah-olah bagaikan jasad tanpa ruh, pohon tanpa buah, mengingat ahlaq mereka yang tidak terdidik dengan ibadahnya dan jiwa mereka tidak bersih karenanya serta hatinya tidak melembut. Padahal disyari’atkan ibadah adalah untuk itu. Berfirman yang Maha Tinggi :

    “Artinya : ….. Dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar ……”. (Al-Ankabut : 45)”Artinya : ….. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Al-Baqarah : 183)

    Tidaklah orang-orang bodoh tersebut mendapatkan bagian dari qiyamu al-lail-nya kecuali hanya jaga saja, tidak dari puasanya kecuali lapar saja, dan tidak pula dari tilawah-nya kecuali parau suaranya.

    Keadaan Khawarij ini membimbing kita pada suatu manfaat seperti yang dikatakan Ibnu Hajar tentangnya : “Tidak cukuplah dalam ta’dil (menganggap adil) dari keadaan lahiriahnya, walau sampai yang dipersaksikan akan keadilannya itu pada puncak ibadah, miskin, wara’, hingga diketahui keadaan batinnya”. (Lihat Fathu Al-Bari XII/302)

    4. Keras Terhadap Kaum Muslimin

    Sesungguhnya kaum Khawarij dikenal bengis dan kasar, mereka sangat keras dan bengis terhadap muslimin, bahkan kekasaran mereka telah sampai pada derajat sangat tercela, yaitu menghalalkan darah dan harta kaum muslimin serta kehormatannya, mereka juga membunuh dan menyebarkan ketakutan di tengah-tengah kaum muslimin. Adapun para musuh Islam murni dari kalangan penyembah berhala dan lainnya, mereka mengabaikan, membiarkan serta tidak menyakitinya.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan sifat mereka ini dalam sabdanya :

    “Artinya : ….. Membunuh pemeluk Islam dan membiarkan penyembah berhala ….”. (Hadits Riwayat Bukhari, VI/376, No. 3644, Muslim II/42 No. 1064)

    Sejarah telah mencatat dalam lembaran-lembaran hitamnya tentang Khawarij berkenan dengan cara mereka ini. Di antara kejadian yang mengerikan adalah kisah sebagai berikut : “Dalam perjalanannya, orang-orang Khawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabab. Mereka bertanya : “Apakah engkau pernah mendengar dari bapakmu suatu hadits yang dikatakan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ceritakanlah kepada kami tentangnya”. Berkata : “Ya, aku mendengar dari bapakku, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang fitnah. Yang duduk ketika itu lebih baik dari pada yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari pada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari. Jika engkau menemukannya, hendaklah engkau menjadi hamba Allah yang terbunuh”. Mereka berkata : “Engkau mendengar hadits ini dari bapakmu dan memberitakannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?”. Beliau menjawab : “Ya”. Setelah mendengar jawaban tersebut, mereka mengajaknya ke hulu sungai, lalu memenggal lehernya, maka mengalirlah darahnya seolah-olah seperti tali terompah. Lalu mereka membelah perut budak wanitanya dan mengeluarkan isi perutnya, padahal ketika itu sedang hamil.

    Kemudian mereka datang ke sebuah pohon kurma yang lebat buahnya di Nahrawan. Tiba-tiba jatuhlah buah kurma itu dan diambil salah seorang di antara mereka lalu ia masukkan ke dalam mulutnya. Berkatalah salah seorang di antara mereka : “Engkau mengambil tanpa dasar hukum, dan tanpa harga (tidak membelinya dengan sah)”. Akhirnya ia pun meludahkannya kembali dari mulutnya. Salah seorang yang lain mencabut pedangnya lalu mengayun-ayunkannya. Kemudian mereka melewati babi milik Ahlu Dzimmah, lalu ia penggal lehernya kemudian di seret moncongnya. Mereka berkata, “Ini adalah kerusakan di muka bumi”. Setelah mereka bertemu dengan pemilik babi itu maka mereka ganti harganya”. (Lihat Tablis Iblis, hal. 93-94).

    Inilah sikap kaum Khawarij terhadap kaum muslimin dan orang-orang kafir. Keras, bengis, kasar terhadap kaum muslimin, tetapi lemah lembut dan membiarkan orang-orang kafir.

    Jadi mereka tidak dapat mengambil manfa’at dari banyaknya tilawah dan dzikir mereka, mengingat mereka tidak mengambil petunjuk dengan petunjuk-Nya dan tidak menapaki jalan-jalan-Nya. Padahal sang Pembuat Syari’at telah menerangkan bahwa syari’atnya itu mudah dan lembut. Dan sesungguhnya yang diperintahkan supaya bersikap keras terhadap orang kafir dan lemah lembut terhadap orang beriman. Tetapi orang-orang Khawarij itu membaliknya. (Lihat Fathul Bari, XII/301)

    5. Sedikitnya Pengetahuan Mereka Tentang Fiqih

    Sesungguhnya kesalahan Khawarij yang sangat besar adalah kelemahan mereka dalam penguasaan fiqih terhadap Kitab Allah dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang kami maksudkan adalah buruknya pemahaman mereka, sedikitnya tadabbur dan merasa terikat dengan golongan mereka, serta tidak menempatkan nash-nash dalam tempat yang benar.

    Dalam masalah ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita dalam sabdanya :

    “Artinya : …. Mereka membaca Al-Qur’an, tidak melebihi kerongkongannya”.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan akan banyaknya bacaan/tilawah mereka terhadap Al-Qur’an, tetapi bersamaan dengan itu mereka di cela. Kenapa ? Karena mereka tidak dapat mengambil manfaat darinya disebabkan kerusakan pemahaman mereka yang tumpul dan penggambaran yang salah yang menimpa mereka. Oleh karenanya mereka tidak dapat membaguskan persaksiannya terhadap wahyu yang cemerlang dan terjatuh dalam kenistaan yang abadi.

    Berkata Al-Hafidzh Ibnu Hajar : “Berkata Imam Nawawi, bahwa yang dimaksud yaitu mereka tidak ada bagian kecuali hanya melewati lidah mereka, tidak sampai pada kerongkongan mereka, apalagi ke hati mereka. Padahal yang diminta adalah dengan men-tadaburi-nya supaya sampai ke hatinya”. (Lihat Fathul Baari, XII/293).

    Kerusakan pemahaman yang buruk dan dangkalnya pemahaman fiqih mereka mempunyai bahaya yang besar. Kerusakan itu telah banyak membingungkan umat Islam dan menimbulkan luka yang berbahaya. Dimana mendorong pelakunya pada pengkafiran orang-orang shalih. menganggap mereka sesat serta mudah mencela tanpa alasan yang benar. Akhirnya timbullah dari yang demikian itu perpecahan, permusuhan dan peperangan.

    Oleh karena itu Imam Bukhari berkata : “Adalah Ibnu Umar menganggap mereka sebagai Syiraaru Khaliqah (seburuk-buruk mahluk Allah)”. Dan dikatakan bahwa mereka mendapati ayat-ayat yang diturunkan tentang orang-orang kafir, lalu mereka kenakan untuk orang-orang beriman”. (Lihat Fathul Baari, XII/282). Ketika Sa’id bin Jubair mendengar pendapat Ibnu Umar itu, ia sangat gembira dengannya dan berkata : “Sebagian pendapat Haruriyyah yang diikuti orang-orang yang menyerupakan Allah dengan mahluq (Musyabbihah) adalah firman Allah Yang Maha Tinggi :

    “Artinya : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (Al-Maaidah : 44)

    Dan mereka baca bersama ayat di atas :

    “Artinya : Kemudian orang-orang yang kafir terhadap Rabb-Nya mempersekutukan”. (Al-An’aam : 1)

    Jika melihat seorang Imam menghukumi dengan tidak benar, mereka akan berkata : “Ia telah kafir, dan barangsiapa yang kafir berarti menentang Rabb-Nya dan telah mempersekutukan-Nya, dengan demikian dia telah musyrik”. Oleh karena itu mereka melawan dan memeranginya. Tidaklah hal ini terjadi, melainkan karena mereka menta’wil (dengan ta’wil yang keliru, pen) ayat ini …”.

    Berkata Nafi’: “Sesungguhnya Ibnu Umar jika ditanya tentang Haruriyyah, beliau menjawab bahwa mereka mengkafirkan kaum muslimin, menghalalkan darah dan hartanya, menikahi wanita-wanita dalam ‘iddahnya. Dan jika di datangkan wanita kepada mereka, maka salah seorang diantara mereka akan menikahinya, sekalipun wanita itu masih mempunyai suami. Aku tidak mengetahui seorangpun yang lebih berhak diperangi melainkan mereka”. (Lihat Al-I’tisham, II/183-184).

    Imam Thabari meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia menyebutkan tentang Khawarij dan apa yang ia dapati ketika mereka membaca Al-Qur’an dengan perkataannya: “Mereka beriman dengan yang muhkam dan binasa dalam ayat mutasyabih“. (Lihat Tafsir Ath-Thabari, III/181).

    Pemahaman mereka yang keliru itu mengantarkan mereka menyelisihi Ijma’ Salaf dalam banyak perkara, hal itu dikarenakan oleh kebodohan mereka dan kekaguman terhadap pendapat mereka sendiri, serta tidak bertanya kepada Ahlu Dzikri dalam perkara yang mereka samar atasnya.

    Sesungguhnya kerusakan pemahaman mereka yang dangkal dan sedikitnya penguasaan fiqih menjadikan mereka sesat dalam istimbat-nya, walaupun mereka banyak membaca dan berdalil dengan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabawi, akan tetapi tidak menempatkan pada tempatnya. Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memberitakan tentang mereka :

    “Artinya : …..Mereka membaca Al-Qur’an, mereka menyangka hal itu untuk mereka padahal atas mereka”. (Hadits Riwayat Muslim)”Artinya : Mereka berkata dengan ucapan sebaik-baik mahluq dan membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melebihi dari kerongkongan mereka”. (Bukhari, VI/618 No. 3611, Muslim, II/746 No. 1066)”Artinya : Membaguskan perkataannya tetapi buruk perbuatannya …. Mengajak kepada kitab Allah, tetapi tidaklah mereka termasuk di dalamnya sedikit pun”. (Hadits Riwayat Ahmad, III/224)

    6. Muda Umurnya dan Berakal Buruk

    Termasuk perkara yang dipandang dapat mengeluarkan dari jalan yang lurus dan penuh petunjuk adalah umur yang masih muda (hadaatsah as-sinn) dan berakal buruk (safahah al-hil). Yang demikian itu sesuai dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

    “Artinya : Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Membaca Al-Qur’an tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya”. (Hadits riwayat Bukhari, VI/618, No. 3611, Muslim, II/746 No. 1066)

    Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar : “Ahdaatsul Asnaan artinya “mereka itu pemuda (syabaab)”, dan yang dimaksud dengan sufaha-a al-ahlaam adalah “akal mereka rusak (‘uquluhum radi-ah)”. Berkata Imam Nawawi ; “Sesungguhnya tatsabut (kemapanan) dan bashirah (wawasan) yang kuat akan muncul ketika usianya sempurna, banyak pengalaman serta kuat akalnya”. (Lihat Fathul Baari, XII/287).

    Umur yang masih muda, jika dibarengi dengan akal yang rusak akan menimbulkan perbuatan yang asing dan tingkah laku yang aneh, antara lain :

    1. Mendahulukan pendapat mereka sendiri daripada pendapat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya yang mulia Radhiyallahu ‘alaihim.
    2. Meyakini bahwa diri merekalah yang benar, sedangkan para imam yang telah mendapat petunjuk itu salah.
    3. Mengkafirkan sebagian atas sebagian yang lain hanya karena perbedaan yang kecil saja.

    Ibnul Jauzi menggambarkan kepandiran dan kerusakan mereka dengan perkataannya : “Mereka menghalalkan darah anak-anak, tetapi tidak menghalalkan makan buah tanpa dibeli. Berpayah-payah untuk beribadah dengan tidak tidur pada malam hari (untuk shalat lail) serta mengeluh ketika hendak di potong lidahnya karena khawatir tidak dapat berdzikir kepada Allah, tetapi mereka membunuh Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu dan menghunus pedang kepada kaum muslimin (sebagaimana keluhan Ibnu Maljam -pen). Untuk itu tidak mengherankan bila mereka puas terhadap ilmu yang telah dimiliki dan merasa yakin bahwa mereka lebih pandai/alim daripada Ali Radhiyallahu ‘anhu. Hingga Dzul Kwuaishirah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berbuat adillah, sesungguhnya engkau tidak adil”. Tidak sepatutnya Iblis dicontoh dalam perbuatan keji seperti ini. Kami berlindung kepada Allah dari segala kehinaan”. (Lihat Tablis Iblis, hal. 95).

    Wallahu a’lam bish-Shawab

    Maraji’

    1. Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dikumpulkan dan disusun oleh Abdurrahman bin Qasim dan anaknya, Daarul Ifta’, Riyadh, cet. I tahun 1397H.
    2. Fathu al-Baari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Imam al-Hafidzh Ahmad bin Ali bi Hajar Majdi al-Asqalani, susunan Muhammad Fu’ad Abdul Baaqi, penerbit : Salafiyah.
    3. Shahih Muslim bin Syarhi an-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syarf an-Nawawi Daarul at-Turats al-Arabi, Beirut, cet. II. Tahun 1392H.
    4. Tablis Iblis, oleh Imam Jamaluddin Abdul farj Abdurahman bin al Jauzi, cet. Daarul Kutub al-’Ilmiyah-Beirut, cet. II Tahun 1368H.
    5. Al-Bidayah wa an-Nihayah, oleh al-Hafidzh ‘Imaddudin Abul Fida’ Ismail bin Katsir, cet. Maktabah al-Ma’arif, Beirut, cet. II Tahun 1977M.
    6. Al-I’tisham, al-’Allaamah Abu ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhami asy-Syathibi, Tahqiq Muhammad Rasyid Ridha, cet. al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, Qaahirah.
    7. Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Aayi al-Qur’an, al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Tabhari al-Halabi, Qahirah.

  10. Wallahu `alam
    salafi juga banyak penyimpangan

  11. apakah jamaah salafy sudah mendapat tiket ke syurga sehingga dengan mudahnya mengatakan yang lain menyimpang?

  12. Untuk mengenal kekeliruan salafy klik aja http://www.ihwansalafy.wordpress.com

  13. Ya Allah….apa yang terjadi pada hambamu ini.

    Wahai saudaraku……semua…………….

    yang patut mengkafirkan/sesat itu adalah Allah SWT…..ingat itu….jangan merasa kita sudah benar dan bersih dari dosa.

  14. Assalamu’alaikum akhi fillah semua. Ana prihatin dengan masalah ini, ini masalah besar, Yang ana pelajari dari IM dalam MAJMU’ATIRROSAIL tulisan Hasan Al-Banna juga tentang Ushul ‘Isyrin dalam memahami agama Islam ana berkesimpulan IM tidak sesat. Jadi permasalahan ini sebenarnya adalah masalah apakah IM itu sesat atau tidak bukan ? Sesuai dengan Islam yang shohih atau tidak? Untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya, adalah dengan mempelajari organisasi IM itu sendiri bukan individunya , karena manusia itu tidak ada yang sempurna. Tanpa ada kebencian, dengan perasaan orang ingin tahu, jangan ada pikiran-pikiran negatif dahulu. Sama halnya kalau seorang non muslim ingin tahu Islam sesat atau tidak -menurut mereka- dengan pikiran negatif, yang dilihat bukan sumbernya tetapi individunya, atau mempelajari sumber pun mengambil dari potongan ayat-ayat atau hadits yang bukan untuk meamahami islam tetapi untuk mencari ” kesesatan ” Islam, maka selamanya seorang non muslim tadi tidak akan menemukan hakikat kebenaran Islam. Karena Islam itu Ya’luu walaa yu’laa ‘alaihi , Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihinya. Sedangkan orang Muslim di dunia ini apakah sudah mencerminkan Islam ? Karena manusia itu tidak ada yang sempurna.
    Ana bukan ingin membela IM, tetapi ingin menempatkan secara proporsiional. Jadi bagi antum yang masih negatif melihat IM, coba antum melihat sebagai seorang pencari kebenaran bukan seorang pencari kejelekan atau kesalahan. Antum lihat orang-orang yang baik dari kalangan IM yang masih semangat mendakwahkan Islam dengan pemahaman ahlussunnah wal jama’ah.
    Jangan sampai kita masuk dalam ciri-ciri Khawarij itu sendiri seperti yang disebutkan Akhi Sudarjo, yaitu :
    1. Suka mencela dan menyesatkan, mengorek-orek kejelakan orang lain. Bahkan dalam ceramah kita yang diungkap contoh2 kejelekan mesti IM, sampai gerakan Takfir di Indonesia juga IM, mengapa bukan LDII?
    2. Selalu Suhuzhon, padahal ukhuwah paling kecil adalah Khusnuzhon, dan paling tinggi adalah itsar. Jadi kalau kita tidak Khusnuzhon apakah masih ada ukhuwah? Kalau kita menganggap musuh saudara semuslim bukankah kita Khawarij?
    3. Belebih-lebihan dalam beribadah, untuk melakukan yang sunnah kita kadang melanggar yang diharamkan. Contoh melakukan sholat tarwih di masjid yng akhirnya putus ukhuwah islamiyah.
    3. Keras dengan orang muslim, bahkan menyesatkan dan seprti keluar dari Islam?
    4. Sedikitnya pengetahuan fiqih, menetapkan hukum tanpa memahami ushul fiqih, hanya berpedoman dari satu atau dua hadits.
    5. Muda dan berakal buruk. Berakal buruk karena salah dam berpikir.

    Karena ana berhubungan dengan dua kelompok itu, dan ana sangat prihatin karena ikhwah yang sedang semangat mengamalkan As Sunnah tetapi dalam berpikir, berakhlaq, berperasaan (asy-syu’ur) tidak mengikuti As-Sunnah itu sendiri. Atau ikhwah IM yang setelah disesatkanpun akhirnya menjauh dan renggang hubungannya dengan ikhwah Salaf. Untuk mencari kebenaran janganlah kita mengikuti pendapat seseorang tanpa melihat buktinya. Karena akan sangat fatal Meyesatkan yang Haq tau membenarkan yang bathil. Bahkan sampai putus hubungan Ukhuwah Islamiyahnya. Karena kita sudah menyatakan ikhwah IM adalah sesat yang berarti keluar dari Islam dan hak-hak sebagai saudara sesama muslim akan putus. Ini akan seperti Seorang jama’ah LDII dengan orang diluar jamaahnya. ini sudah hizbiyah. Jadi saya menyeru kepada semua ikhwah IM maupun pengikut Salafush Sholeh, jangan terburu-buru menghukum.

  15. Hendra S, hamba Alloh yang lemah
    Ana senantiasa mencermati fenomena tidak sehat yang terjadi di tubuh umat muslim. Ada beberapa hal yang layak kita renungkan:
    “Sesungguhnya ada sekelompok dari umat Islam yang tanpa sadar telah menjadi tuhan disamping Alloh.”
    “Sekelompok di dalam tubuh umat Islam ini memiliki kelemahan, yakni tidak pernah mengakui kesalahan dan kelemahan mereka.”

    Siapakah sekelompok itu, masing-masing hati kita yang pantas menjawabnya.

    Kita mohon ampun kepada Alloh, kita akui kesombongan kita di hadapan-Nya, kita akui belum sepenuhnya mencintai-Nya.

  16. salaf-salaf…..

    emang ngak bosen-bosennya loe ngapirin saudara loe sendiri, kayak Loe aja yang menciptakan Quran…

  17. boleh boleh aja mentahzir seseorang atau suatu kelompok orang jika mashlahatnya lebih besar dari mudharatnya, tapi jangan sampai menyesatkan bila yg tertuduh tidak terbukti telah benar benar keluar dari aturan islam, intinya kembalikan kepada al quran dan sunnah dg pemahaman yg lurus

  18. >cuma manggut-manggut aja bro, pura-pura paham gt lho.

  19. gw sih ‘salut’ ama orang2 yang gampang menghakimi….
    padahal yang ngaku ‘salafi’ aja pada saling gontok-gontokan
    bosen gw ngeliatnya. kapan mau maju tong.,! masalahnya adalah merasa paling ‘BENAR’ paling ‘NYUNAH’ kan kalo gitu kayak makhluk apaan ? susah deh…

  20. Yang paling benar adalah yang mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam, selain itu maka tidak benar, apakah IM sesuai dengan tuntunan Rasul???

  21. horreee… hebat orang-orang Nyang ngaku salafi…. bisa menganalisa, mencari-cari dan menvonis/menghakimi seseorang atau sekelompok orang, luarrrrr biasa. kadang-kadang kalo orang merasa paling nyunah, paling ‘kayak nabi’
    emang paling gampang menuduh dan menuduh, emang kerjaanya kaleeee….! gila emang, padahal diantara ‘orang nyang ngaku salafi’ aje pade gontok-gontokan coy… payah.
    yaitu paling mengaku paling nyunah. hmmm… padahal kadang
    mereka suka juga lho yang namanya, ngikutin gaya-gaya orang kafir bahkan pura-pura sok gak tau…dasar, Nih contohnya :
    1. mereka pura-pura bahwa itu bank boleh di pake untuk transaksi, padahal bank itu siapa yang ciptain man ? orang2 barat yang nota benenya sistem diluar islam, dah jelas riba coy…! tapi prakteknya suka malu-malu kucing, coba liat deh, di majalah-majalah mereka semua pake bank-bank buatan orang yahudi.untuk transaksi.gila gak tuh….! idih, itu namanya mendukung sistem kafir yang jelas-jelas nyata.tapi boleh dipake. wuih…. luar biasa pura-puranya. baca dong coy, islam punya aturan, sistem dan itu nabi juga ajarin.
    gak cuman bisa bidang-bidang yang itu lagi itu lagi. giliran ketemu sistem ekonomi islam gelagapan. kayak kelelep gak bisa berenang.
    2.Hmmm… Rosul aja mengajari setiap muslim itu senyum. itu sunah tau kan ? but kenapa ketika mereka berkelompok
    terus tadinya temen deket, gara-gara ikut ngaji di ‘salafi’ jadi
    aneh, salam gak dijawab, senyum gak di balas, aneh jadi kayak ‘salafikiran’ he… he… he…..mannnnnnaa ngidupin sunahnya ? itu aja baru 2 persoalan yang bisa didapt dari saya. masih ada ribuan kaleeeeeee….. to be continued.

  22. assalammualaikum…
    saudaraku, kenapa kita smua harus saling bertengkar dan menghujat? cobalah bersikap arif n bijaksana.. bukankah kita masih dalam satu dien?
    cobalah untuk saling mengenal…agar ada rasa sayang pada sesama….
    alhamdulillah,ana saat ini sudah mantap di salaf..
    dan ana lahir dari keluarga yang aktif di IM..
    salaf bukanlah kelompok atau pergerakan..tapi salaf adalah sikap hidup yang diambil dan diamalkan sesuai al quran dan sunnah.. lunturkan keegoisan mari duduk bersama berdiskusi..agar dien ini tak lagi terkotori oleh nafsu kita…tak ada salahnya belajar dari orang lainkan?:) maafkan jika ada kata2 yang salah.

  23. Sesat lagi menyesatkan ……
    Kalau manusia tak kenal tuan yang empunya agama memanglah sesat.
    Ngata orang sesat sendiripun sesat.
    AWAL AGAMA MENGENAL ALLAH.
    Kalau Allah tak kenal. Angkatlah diri sendiri jadi Allah.
    Ngate dulang paku serpih, ngate orang……….

  24. jikalau IM dikatakan sesat adakah pemerintahan sekular dikatakan benar???
    siapakah kita nak dibandingkan dengan tokoh IM ?
    Mereka 24 jam memikirkan umat islam kita bagaimana??
    adakah mereka yg mengkritik as syahid sayyid qutb blh mengarang satu kitab tafsir sepertinya bg umat islam??
    renungkan lah…wahai saudaraku

  25. semoga Alloh Subhanahu wata’ala meridhoi perjuangan AsSyahid Hasan Al Bana, AsSyahid Sayed Qutb, AsSyahid Izzudin Al Qassam, AsSyahid Syekh Ahmad Yasin, AsSyahid Dr Rantisi, dan ribuan ikhwah mujahidin dalam barisan Ikhwanul Muslimin yang telah ikhlas insya Alloh mengorbankan jiwa-jiwa mereka demi tegaknya Ad Dienul Islam…Amal nyata dalam JIHAD adalah bukti hakiki muslim sejati…

  26. BERHATI-HATILAH…
    JAGA HATI DAN LIDAH…
    SEMOGA YANG MAHA BENAR…DAN
    MAHA MENGETAHUI…MENGAMPUNI DOSA KITA SEMUA…SURGA TELAH DIJANJIKAN…DAN
    KITA TAHU BAHWA,MASUK KEDALAMNYA HANYA KARENA RAHMAT DAN RIDHO ALLAH, BUKAN KARENA KELOMPOK (IM. HTI,SALAFI,PKS,PDI,GOLKAR…DLL) ATAU DENGAN KATA LAIN KELOMPOK, JAMA’AH, PARTAI DLL.TIDAK BISA MEMBUAT KITA MASUK SURGA…

  27. IM dan tokohnya beserta segenap pengikutnya telah berbuat nyata demi umat, dakwah, kemanusiaan dan dunia.. sejarah telah mencatat. lalu apakah yang telah kalian perbuat bagi palestina ataubentuk penindasan di bumi yang lainnya …

  28. Salam,
    Boleh perincikan nama ustaz blogger?
    Sangat2 ganjil, pendapat yg dikemukakan bercanggah dgn begitu ramai ulama dunia. Mungkin bersifat nasional/globalisme punya pendapat. Dah banyak blog begini, kemukakan pendapat berpindah2, melompat-melompat, melangar-langgar dan dgn pasti ada topik2 yg menyentuh bab yg khilaf yg tdk berketentuan oleh ijma’ ulama’.
    Tapi huraian yang panjang lebar ttg ikwanul Muslimin hampir seolah-olah dlm 60 Tahun usahanya, kalau baca komen blogger nk dkt tak nmpk kebaikannya, sama juga dgn hurain-huraian yg kadang2 sgt panjang dan tak masuk otak ataupun mata. Moga-moga blogger tuliskan sesuatu yg qana’ah kpd umum dan bukan unsur-unsur fitnah, ragu-ragu, perpecahan, khilaf, jihad dsb. Sebarkanlah kebaikan walau satu ayat (atau) satu artikel. Mungkin 60% ke atas topik blog ini memihak fitnah akhir zaman yang pemfitnahnya kita x nmpk terutama dlm dunia blogging sekarang. Sabda Nabi S.A.W. : Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain, dia tidak menzaliminya, tidak mengkhianatinya dan tidak menyerahkannya untuk dizalimi. Jadi wajar untuk kita sensor fakta kesesatan itu kerana itu sangat zalim, khianat kerana dalam organisasi Ikhwanul Muslimin dlm rangka 60 thn terdapat org2 yg adil, mustahil juga tidak ada walau satu kebaikan dlm organisasi tersebut. Kalau semua tu betul, mungkin Penguatkuasa Agama dah lama mengeluarkan fatwa tentang haramnya Ikhwan al-muslimin dan tiada sebarang pengharaman lokal atau international fatwa yang mensahihkan dakwaan diatas kecuali saudara blogger yg bersepakat dalam hal ini.

    Sekian, Wallahu’alam

  29. aku heran dengan banyaknya aliran-aliran dalam islam yang sebenarnya semua sama saja dan tidak jauh berbeda tapi saling mengkafirkan satu sama lain

  30. gile loe ye berani2an bilang hasan albana sesat,,,,,,,emang loe udah pasti masuk surga ya….ga coy…ga ada yg jamin nte bener coy…hahahaha

  31. afwan, tulisan yang menjelekan sesama muslim mencerminkan kedangkalan penulisnya. Tulisanya hanya akan mencoreng keutuhan BANGUNAN ISLAM. Mencoreng pula kelompoknya, dalam hal ini salafi yang tercitrakan buruk.

    maka, untuk sahabat salafi lain yang lebih faham tolong tegur penulis blog yang menjelekan harakah lain. karena tulisannya tidak akan membawa manfaat. jzk

  32. BOLEH SAYA BERTANYA PADA KOMENTATOR SEMUANYA?

    1.) KAIDAH SIAPA YANG MENGATAKAN SEPERTI INI ” Kita saling tolong menolong dalam apa yang kita sepakati dan kita saling toleransi sebagian kita terhadap sebagian yang lain dalam apa yang kita berbeda”

    SEPERTINYA KAIDAH INI MEMATIKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR,
    * Apakah kita akan memberikan toleransi terhadap seseorang yang menyembah kuburan? Jika iya,,,, Subhanallah…pelaku kesyirikan pun masih ditoleransi dan dibiarkan begitu saja, bukankah Allah memerintahkan dalam Surah Al Ashr agar kita saling menasehati dalam kebenaran? Dan bukankah Allah telah memerintahkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan tidak pada keburukan?

    2.) KELOMPOK MANAKAH YANG ZAMAN INI SENANG MEMBANGKANG KEPADA PEMERINTAHNYA (PEMERINTAH MUSLIM)?

    INI SAMA HALNYA DENGAN MEMBANGKANG KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA,
    Kenapa? “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu’ (QS. An Nisa : 59). KELOMPOK YANG SUKA BERDEMOSNTRASI, MENGKRITIK, MEBANGKANG, MENGHUJAT, DAN MENGAJAK MANUSIA UNTUK MEMBENCI PEMERITNAHNYA, INI SAMA HALNYA DENGAN KAUM KHAWARIJ. RASULULLAH SHALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DALAM SABDANYA MENJELASKAN BAHWA ‘KHAWARIJ ADALAH ANJING-ANJINGNYA API NERAKA”
    LANTAS….APAKAH KITA AKAN MENIRU KELOMPOK SESAT TERSEBUT?

    KIRA2 KELOMPOK MANAKAH SEKARANG YANG SUKA BERDEMOSNTRASI BAHKAN SANGAT BERNAFSU UNTUK MENJELEK-JELEKKAN PEMERINTAH KAUM MUSLIMIN?

    ===> SAYA RASA BAHWA KOMENTATOR SEMUANYA TAHU AKAN JAWABAN DARI PERTANYAAN SAYA MESKIPUN CUMA 2 <=== ^ ^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: