Posted by: sokongsalaf | July 24, 2007

Penipuan Intelektual Oleh Ustaz Salafi Rasul Dahri

Penipuan Intelektual Oleh Ustaz Rasul Dahri

Ilmuan Salafi Malaysia, Ustaz Rasul Dahri telah melakukan satu kesilapan yang besar apabila beliau secara dengan jelas bahawa Iman Syafie beriktikad dengan, iktikad salafi iaitu tauhid ada 3 pecahan.
1) Tauwhid Rububiyyah
2) Tawhid Ulluhiyyah
3) Tawhid Asma-u-Wasifat

Kenyataan ini kita boleh baca dalam tulisan beliau berkenaan dengan akidah, di sini saya penuh satu perenggan tulisan, pendapatnya.

Dalam memperkatakan tauhid asma’ (nama-nama Allah) was-sifat wa-zat(sifat-sifat dan zat Allah), tauhid uluhiyah serta tauhid rububiyah, maka Imam as-Syafie dianggap seorang Imam Besar Salafi yang menegah
(mengharamkan) takwil, takyif, tasybih dan ta’til terhadap sifat dan zat
Allah ‘Azza wa-Jalla. Sebagaimana yang dapat difahami dari riwayat Abu TalibAl-‘Usayri beliau berkata: Imam as-Syafie pernah ditanya berkenaan
sifat-sifat Allah ‘Azza wa-Jalla dan beriman dengannya, beliau (Imam
as-Syafie) menerangkan:

“Allah Tabaraka wa-Ta’ala memiliki asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat yang
telah disebutkan oleh KitabNya (al-Quran) dan dikhabarkan oleh NabiNya
sallallahu ‘alaihi wa-sallam (hadith-hadith) kepada umatnya, yang tidak
boleh diingkari oleh sesiapa pun dari makhlukNya kerana telah sampai
kepadanya dalil bahawa al-Quran turun membawa keterangan tentangnya. Begitu juga diriwayatkan tentangnya dengan perawi yang thiqah (dipercayai)”. [38]

Mari kita mengkaji tulisan ini dari aspek Ilmiah, yang pertama kenyataan Rasul Dahri bahawa Imam Syafii memperkatakan tiga tauhid, “Dalam memperkatakan tauhid asma’ (nama-nama Allah) was-sifat wa-zat(sifat-sifat dan zat Allah), tauhid uluhiyah serta tauhid rububiyah…” Penulisan sedemikian adalah salah kerana Imam Syafii tidak pernah menulis buku tentang tauhid terbahagi tiga bahagian, pembahagiaan ini dipopularkan oleh Ibnu Taimiyyah. Ustaz Rasul Dahri secara memusing fakta seolah-olah mengatakan bahawa Imam Syafiipun percaya kepada tiga tauhid ini. Kesalahan kedua adalah menisbatkan Imam Syafie adalah Imam Besar Salafi, sebenaranya mengikut kepercayaan orang salafi, Imam Besar mereka adalah Ibn Taimiyyah al-Harani bukannya Imam Syafie ra. Di sini saya menulis penipuan Ilmiah Rasul Dahri, penipuan sebegini biasanya dilakukan oleh orang yang ingin mengheret pengikut Mazhab Syafii kepada salafi, kononnya Imam Syafii itu sama macam salafi.

Beberapa anak murid dan kawan sealiran Rasul Dahri seperti Nuur Fakhrul, Masri, Eng Sian dan Sdra Imran cuba untuk membela tulisan Rasul Dahri ini, tapi sebenarnya mereka gagal untuk membelanya kerana fakta pembohongan ini jelas sekali. Kegagalan kedua mereka adalah untuk membuktikan bahawa penjuzukan Tauhid kepada tiga bahagian berasaskan nas (tawhid 3 in 1), mereka sering mengajar Tawhid terbahagi kepada 3, namun mereka sendiri gagal untuk membuktikan bahawa adanya nas tentang rukun iman mereka ini. Saya ingin mencabar mana-mana salafi untuk tampil memberikan hujah bahawa sememangnya Rasulullah memang mengajar untuk membahagikan Tawhid menjadi tiga…mungkin sampai sekarang mereka masih lagi gagal.

About these ads

Responses

  1. Assalamualaikum,
    Mmng benar bahawa Imam Besar kita Muhammad Bin Idris….. .. As Syafi’e ( semuga Allah merahmati beliau) tidak pernah membuat pembahagian pada ketiga tiga Tauhid yg Saudara kita ini sebutkan. Pembahagiannya dipopulrkan oleh Syeikh Ibnu Taimiyyah ( semuga Allah merahmati beliau). Kita sebagai yg mengaku ahli Sunnah harus punyai adab dlm membantah apa apa kesilapan & kesalahan yg dilakukan oleh siapa saja termasuklah para ahli ilmu. Kemukakan hujjah & fakta yg benar dlm membantah, jauhkan emosi marah yg tak terkawal walau pun org yg kita bantah itu tak sefaham dgn kita. Paling molek jauhkan fitnah & Syubhat terhadap sesama ahli Sunnah. Harus diketahui bahawa selain dri Rasullullah adalah tidak ma’sum, pasti ada membuat kesilapan.

    Mengenai ketiga tiga Tauhid ini, tiada menjadi kesalahan bgi kita utk mempelajarinya sebab Imam Ibnu Taimiyyah menyusunnya berdasarkan dalil dri Al Quran. Contohnya Tauhid Rububiyyah : Tauhid yg di anuti/difahami oleh semua manusia, bukan sahaja orang Islam. Dalilnya” Dan jika kamu bertanyakan mereka tentang: Siapakah pencipta mereka? Nescaya mereka menjawab: Allah.” (Az-Zukhruf: 87). Begitu juga dgn Tauhid Uluhiyyah & Asma’ wa Sifat masing masing ada dalil yg menguatkannya. Adalah salah kalau ada yg mengatakan bahawa ketiga tiga pembahagian Tauhid tidak bedasarkan kepada dalil yg kuat. Jika Saudara kita ini ingin hujjah yg lebih rinci ttg ketiga tiga Tauhid ini, Insya’Allah akan sya kemukakan di lain kesempatan. Mungkin ketika itu nanti Saudara pula boleh kemukakan Tauhid yg Saudara pegangi mungkin Sifat 20 berserta dalilnya sekali dri Quran & Hadith??? dan akhir sekali satu pertanyaan dri Sya pula, adakah dalil dri Rasullullah bahawa beliau ada mengajar ttg Ilmu Sifat 20 ???

    Allahua’lam

  2. Assalamualaikum, sebelum Saudara atan menghuraikan lebih rinci ttg masalah tiga Tauhid yg menjadi pertentangan antara kita terlebih dahulu saya copy & pastekan sebuah artikel ttg ketiga tiga Tauhid ini.

    Januari 8, 2007 at 7:48 am | In Aqidah |

    Jenis-Jenis Tauhid – Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Sifat

    Penulis: Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi

    Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya. Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua? Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian. Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup. Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya? Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal. Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci. Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190) Juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164) Mengenal Wujud Allah. Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at. Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45) Mengenal Rububiyah Allah Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14) Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4) Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu? Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah: “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 ) Kedua, agar mereka memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman: “Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya: “Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf: 87) “Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61) “Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Al Ankabut: 63) Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka. Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat. Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah. Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya. Mengenal Uluhiyah Allah Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah. Allah berfirman di dalam Al Qur’an: “Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau: “Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi) Allah berfirman: “Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36) Allah berfirman: “Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21) Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu ) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu ) Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang. Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.” Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah: “Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Qs. Al A’raf: 186) “Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (QS. An Nahl: 60) Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36) Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf: 33) “Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungan jawaban.” (QS. Al Isra: 36) Wallahu ‘alam (Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi, judul asli Mengenal Allah. Url sumber http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=30)

  3. Saya nk komen sikit pasal artikel penipuan intelektual oleh hmba Allah yg tk bernama ttg perkara berikut:

    Saya ingin mencabar mana-mana salafi untuk tampil memberikan hujah bahawa sememangnya Rasulullah memang mengajar untuk membahagikan Tawhid menjadi tiga…mungkin sampai sekarang mereka masih lagi gagal.

    Komen Saya:
    Sikap cabar mencabar sesama Islam sya rasa kurang baik kerana ia boleh mengeruhkan lagi suasana yg telah sedia keruh. Kan Islam menggalakan kita saling berbincang, bermuzakarah dlm suasana tenang & harmoni. Cuba kawali emosi dlm berhujjah. Anggap kwn dgn org yg kita berhujjah itu. Insya’Allah dgn anggapan sedemikian suasana akan menjadi tenang…

    Satu lagi pendapat sya, bahawa sesuatu yg tidak diajar pada zaman Rasullullah itu tidak semestinya kita tidak boleh pelajari dan amalkan janji perkara itu ada dalilnya dri Al Quran &hadith juga pendapat ulamak muktabar. Contohnya: Pada zaman Rasullullah tak ada Ilmu Usul Fiqh Ilmu Usuluddin & sebagainya. Tetapi ianya disusun oleh Ulamak berdasarkan kepada dalil utk kita mudah memahami & mengamalkanya. Untk mudah difahami, Rasullullah tidak menyusun bab pembahagian air sebagaimana yg kita belajar sekarang,tetapi ulamak muta’akhir menyusunya utk kemudahan kita…..

  4. Assalamualikum,
    Pernahkah saudara saudara semua mendengar perkataan salaf / salafi/ salafussoleh? sya rasa tentu saudara/i pernah mendengarnya, cuma mungkin kita tidak tahu siapakah mereka ini. Jadi utk mengetahui siapa dia salaf / salafi sama samalah kita berkongsi maklumat mengenainya dri org yg ahli ttgnya,supaya nanti tidak timbul fitnah dan syubahat terhadap mereka mereka ini dan org org yg mengikuti jejak langkah mereka ini . Salaf bukanlah Mazhab atau fahaman baru dlm Islam sebagaimana yg didakwa oleh sesetengah org. Dlm Quran dan hadith ada disebut ttg salaf cumanya kita tak pernah didedahkan oleh ustaz ustaz dan guru guru kita semasa kita dialam persekolahan dulu mau pun di sek sek agama. Untuk tujuan itu sama samalah kita membaca kajian dan penjelasan ttg salaf ini. Mudah mudahan bermenfa’at .

    Menurut bahasa, Salaf artinya ‘ nenek moyang’ yang lebih tua dan lebih utama[1]. Salaf berarti para pendahulu . Jika dikatakan “salafu ar-rojuli” = salaf seseorang, maksudnya kedua orang tua yang telah mendahuluinya.[2]

    Menurut istilah, kata Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat (Islam) ini, yang terdiri dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/ masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” [3]

    Sabda Nabi kepada anak kesayangannya Fatimah: sesungguhnya sebaik baik salaf bagimu adalah aku ( H/R Muslim 1450)

    Menurut al-Qalsyani: “ Salafush Shalih ialah generasi per-tama dari ummat ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjaga sunnahnya, Allah pilih mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menegakkan agama-Nya…” [4]

    Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata di dalam kitabnya al-‘Aqidah al-Islamiyyah baina Salafiyyah wal Mu’tazilah: “Penetapan istilah Salaf tidak cukup dibatasi waktu, bahkan harus sesuai dengan al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih ( tentang aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk -Pent.). Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan al-Qur-an dan as-Sunnah mengenai ‘aqidah, hukum dan suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafy meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi al-Qur-an dan as-Sunnah, maka ia bukan seorang Salafy meskipun ia hidup pada zaman Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. [5]

    Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyun bukanlah termasuk perkara bid’ah, akan tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syar’i karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

    Ahlus Sunnah wal Jama’ah dikatakan juga as-Salafiyyun karena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Shahabat dan Tabi’in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka -di sepanjang masa-, mereka ini disebut Salafy, karena dinisbatkan kepada Salaf. Dan Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber-‘aqidah, beribadah, berhukum, berakhlaq dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Jadi, pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan. [6]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (wafat th. 728 H) [7] berkata : “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran.” [8]

    [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

    Tambahan :

    This manhaj (way) is based upon the Qur’aan and Sunnah and the Ijmaa’ (consensus) of the scholars of Ahlus-Sunnah (the People of the Sunnah ).

    WHO ARE THE SALAFUS-SAALIH?

    Allaah the Exalted says:

    ” The first to embrace Islaam from the Emigrants ( Muhaajiroon ) and the Helpers ( Ansaar ) and those that follow them upon righteousness, Allaah is pleased with them and they are pleased with Him. ” [Sooratut-Tawbah 9:100]

    This verse shows that the Salaf are the Companions of the Messenger ( sallallaahu ‘alayhi wa sallam ). The first to embrace Islaam ( Saabiqoon ) does not refer to a group amongst the companions. It refers to all of them. So the Salaf are the companions and those that followed them upon righteousness.

    The Prophet ( sallallaahu ‘alayhi wa sallam ) said: “The best of people is my generation and then to come after them and them to come after them then lies will be widespread.” Saheeh: Related by al-Bukhaaree (no. 2652) and Muslim (no. 2533).

    They are the best people.

    Allahua’lam.

  5. Dari 4 posting yang saya baca, satupun gagal menunjukkan Imam Syafie meyakini aqidah 3 in 1, seperti yang ditulis oleh Rasul Dahri.

    Posting cut & paste dari tuan-tuan hanyalah menceritakan penafsiran Imam Syafii tentang asma-wa-sifat. Ini adalah perkara cabang, namun perkara pokok tentang akidah tidak dijawab, adakah Islam membahagikan Tawhid kepada 3 berasaskan nas atau hanya rekaan ulama salafi?

  6. Bgi Sya, jika Imam Syaf’i ditakdirkan hidup sezaman dgn Imam Ibnu Taimiyyah Sya meyakini bahawa Imam Syafi’i akan menerima &meyakini ke tiga tiga pembahagian Tauhid ini. Sya katakan begitu sebab sebagaimana yg dikatakan oleh Saudara Atan, bahawa dalil yg dibawa oleh Imam Ibnu Taimaiyyah dlm menyusun ketiga tiga Tauhid ini adalah kuat yg bedasarkan kepada dalil Quran. Jika Saudara merasakan ianya menyeleweng dri aqidah Ahli Sunnah, sila tegakan hujjah. Saudara belum menjawap lagi pertanyaan Saudara Atan ttg ilmu sifat 20 berserta dalinya dri Quran & hadis. Saudara juga masih belum faham antara perkara pokok (usul) & perkara furu’ (cabang ) dalam Islam sehingga Saudara boleh mengatakan asma wa sifat adalah perkara cabang.

  7. Ana juga meyakini jika Imam Syafi’i hidup sezaman dgn Ibnu Taimiyyah, beliau akan mengimani ke tiga tiga Tauhid ini. Imam Syafi’i adalah pembela sunnah. Pegangan beliau adalah Quran & hadis. Tidak mungkin beliau menolak Kerububiyyahan Allah s.w.t yg mana Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, pentadbir sekelian alam. Mustahil beliau menolak Ke Uluhiyyahan Allah s.w.t. yg menjelaskan bahawa beribadah hanya semata mata kepada Allah & mustahil beliau tidak mengimani nama dan sifat Allah s.w.t.

  8. Kat sini ada soalan yang ingin saya tanyakan kepada mereka mereka yang menolak pembahagian 3 Tauhid yg diperbincangkan.

    Adakah Rasulullah s.a.w. menyusun Ilmu yg dinamakan Ilmu Usuluddin, Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam especially sifat 20 & pecahannya kemudian diajarkan kepada kita?

  9. Assalamualikum,
    Saya bukanlah org yg pandai dalam berhujjah, cuma disini sya ingin berkongsi mengenai Isu yg dibincangkan. Moga bermenfa’at untuk semua.

    KEISTIMEWAAN ‘AQIDAH AL-FIRQATUN-NAJIYYAH

    1. Memelihara Kemurnian Tauhid

    Dalam hal ini ada dua macam :

    a. Tauhidullah

    Meliputi : Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat. Mengapa ulama salaf setelah membahas Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah, kemudian membahas Tauhid Asma’ wa Shifat secara khusus ?

    Jawaban : Karena masalah shifat-shifat Allah ini merupakan masalah ghaibiyyah, seperti : Allah punya tangan, mata, berbicara, turun, bersemayam, dan sebagainya. Dalam hal ini, Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah mengimani semua shifat-shifat yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik dalam menetapkan atau menafikkannya. Jadi tidak terbatas 13 atau 20 shifat sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Abul-Hasan Al-Asy’ary (yang alhamdulillah beliau rujuk kepada aqidah shahihah menjelang akhir hayatnya). Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah mengimani semua shifat-shifat yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan tidak merubah artinya, tidak menolak, tidak pula menanyakan kaifiyyahnya. Ahlus-Sunnah mengimani sebagaimana dhahir nash dengan berlandaskan firman Allah :

    ”Tidak ada sesuatupun yang menyamai Allah, sedangkan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syuura : 11).

    Jadi, shifat-shifat Allah itu tidak sama dengan shifat makhluk-Nya sedikitpun. Memang, para ulama salaf mempunyai cara tersendiri dalam meluruskan akal. Salah satunya dengan memahamkan Tauhid Asma’ wa Shifat. Kalau seorang muslim sudah bisa menerima tauhid ini sesuai dengan pemahaman salaf – dengan tidak melakukan ta’wil – , misalnya dengan mengimani bahwa Allah mempunyai mata, kaki, dan lain-lain. InsyaAllah dalam menghadapi atau memahami ayat-ayat lain seperti Nabi ‘Isa turun, atau berita-berita ghaib lainnya, ia akan mengimaninya tanpa perlu berpikir-pikir lagi (jika memang dilandasi oleh nash Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang jelas/sharih).

    Inilah pentingnya Tauhid Asma’ wa Shifat dalam meluruskan akal yang sok ilmiah (dengan permainan logika/mantiq).

    b. Tauhid Ittiba’

    Tauhidullah dan Tauhid Mutaba’ah (tauhid hanya mengikuti petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam agama) adalah dua rukun dan dua asas yang hakiki dalam Islam. Keduanya itulah hakikat dua kalimat syahadat, sehingga dengannya suatu amal bisa diterima.

    Imam Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafy berkata : “Tidaklah seseorang itu selamat dari ‘adzab, kecuali jika telah merealisasikan dua tauhid tersebut”.

    Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Secara global arti dua kalimat tauhid tersebut adalah Pertama, tidaklah kita beribadah kecuali hanya kepada Allah; Kedua, tidaklah kita beribadah kecuali kecuali dengan apa yang telah disyari’atkan (oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam). Kita tidak boleh beribadah dengan cara bid’ah”.

    Ibnul-Qayyim berkata : “Tidaklah seseorang dikatakan telah merealisasikan ayat { إِيّاكَ نَعْبُدُ } “Hanya kepada-Mu kami menyembah”, kecuali jika orang tersebut telah merealisasikan dua masalah besar, yaitu :
    a. Tauhid Ittiba’; yaitu mutaba’ah kepada Ar-Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam.
    b. Tauhidullah.

    (Lihat : Wujuub Luzuumil-Jama’ah oleh Jamal bin Ahmad bin Basyirbadi halaman 311).

    Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu mengatakan : “Sesungguhnya kami adalah orang yang mutbi’ (mengikuti), bukan mubtadi’ (membuat bid’ah). Jika kami dalam keadaan lurus maka maka ikutilah; dan jika bengkok/menyimpang, maka luruskanlah”.

    Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :

    إتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم

    ”Ikutilah dan jangan membuat hal-hal yang baru (bid’ah), karena sesungguhnya hal itu telah cukup bagimu” (Dikeluarkan oleh Ath-Thabrani).

    Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata :

    كل بدعة ضلالة. وإن رءاها الناس حسنة

    ”Semua bid’ah adalah sesat sekalipun manusia melihat hal itu baik” (Dikeluarkan oleh Al-Laalika’I).

    {Lihat Tanbih Ulil-Abshar karya Syaikh Dr. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimy halaman 66}.

    Imam Ahmad rahimahullah berkata : “Pokok-pokok Ahlus-Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh pada apa yang ada pada shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengikutinya, serta meninggalkan bid’ah. Karena semua bid’ah adalah sesat” (Ushulus-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal).

    Imam Syafi’I dan Al-Laits bin Sa’ad berkata : “Ahlul-Ahwa’ itu sekalipun bisa berjalan di atas udara, tidak akan kami terima”[/size].

    {Lihat : Tanbih Ulil-Abshar karya Syaikh Dr. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimy halaman 70}

    Dalam rangka merealisasikan Tauhid Ittib’ ini, maka Tauhid ini harus didasari cinta pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melebihi cintanya pada bapak, anak, maupun dirinya sendiri.

    Dari Abdullah bin Hisyam radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Kami beserta Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Disampingnya terdapat Umar bin Khaththab. Maka ‘Umar berkata pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Sungguh aku mencintai engkau di atas segalanya kecuali diriku”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata : “Tidak! Demi Dzat yang diriku ada di Tangan-Nya. Bahkan sampai engkau menjadikan aku yang paling engkau cintai daripada dirimu”. Maka berkata ‘Umar kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Sungguh sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata,”Demikianlah ya ‘Umar….” (HR. Bukhari).

    Berkata Syaikh Sulaiman bin Abdullah Aali Syaikh : “Syarat mahabbah (cinta) adalah harus sesuai dengan yang dicintai, mencintai apa yang dicintai, dan membenci apa yang dibenci” (Taisirul-Azizil-Hamid Syarhu Kitaabit-Tauhid halaman 472).

    Berkata Ibnu Taimiyyah : “Salah satu dari konsekuensi mahabbah (cinta) pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ialah harus menjunjung tinggi sunnah dan melaksanakannya, serta tidak menolaknya disebabkan bertentangan dengan pendapat dan akalnya, atau qiyas atau perkataan orang, dan lain-lain” (Majmu’ Fataawaa 17/443-445).

    Termasuk konsekuensi cinta ialah memperbanyak membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan tidak berlebihan seperti yang dilakukan oleh ahlul-bida’; kemudian mencintai shahabat dan keluarganya radliyallaahu ‘anhum ajma’in. Juga memberikan wala’ (loyalitas) serta keridlaan pada mereka dan diam dalam mensikapi fitnah yang menimpa para shahabat, serta membenci orang-orang yang membenci shahabat.

    Lihat : Wujub Luzuumil-Jama’ah karya Syaikh Jamal bin Ahmad bin Basyirbadi

  10. Walaikumussalam,

    Dah berapa banyak tauhid nak bahagi dah, sekarang dah jadi 2 pulak, iaitu Tauhidullah dan Tauhid Ittaba’.

    Mungkin esok ada yang tambah Tauhid Mahabbah – kerana ada dalil kena mencintai Allah lebih dari sekelian Makhluk.

    Adakah itu Mansus pembahagian Tauhid itu? Jawapannya tidak. Jadi kenapa membingungkan diri dengan pemikiran yang luar dari Islam?

    sekian…

  11. Tentang Tauhidullah dan Ittaba’ belum pernah sya dengar dan pelajari wallahua’lam no komen.Mengenai Tauhid 3 dlm 1 mmg pernah sya dengari dan pelajari malah di sek sek Ren,Menengah hatta sek sek agama dijadikan silibus & kurikulum utk dipelajari oleh anak anak kita.Kalau ianya salah & menyeleweng mengapa agaknya ya,pihak kementerian & Jabatan agama membenarknya?

  12. Nak katakan ahli ilmu pun tidak, nak katakan penuntut ilmu pun tidak juga.Kaedah bantahannya persis org aqlaniyyun.Enggan menerima dalil. Gemar memerangkap org dgn Qaulnya.Enggan menjawap pertanyaan.

    Siapakah dia gaknya ya???… Khawarij? Mu’tazili? Murji’i? Jahmiyah atau ?????

  13. Assalamualikum,
    Semuga Antum semua diramati Allah. Nasihat dri Ana kepada yg mengaku berpegang kepada Manhaj Ahlussunnah supaya menjauhi perdebatan dan perjidalan dengan ahli Kalam dalam perkara Addin. Fikir fikirkanlah kata kata di bawah ini:

    Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan: “Perdebatan dalam masalah agama akan menumbuhkan sifat riya`, menghilangkan cahaya ilmu dari hati, dan mengeraskannya serta mewariskan dendam.” (Siyar A’laamin Nubalaa` 8/106 dan semisalnya dari Asy-Syafi’iy sebagaimana dalam As-Siyar 10/28)

    ***

    Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mendengar suatu kaum saling berdebat, maka beliau berkata: “Mereka ini adalah suatu kaum yang sudah bosan akan ibadah dan telah menjadi ringan atas mereka perkataan dan telah sedikit wara’ mereka, lalu mereka pun berkata (suka berdebat )” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hlm. 89)

  14. Wassalam,

    Nampaknya macam tulisan saudara ini bagus sangat, setelah saya memerhati beberapa hari, ada beberapa salafi dari UTM yang menyamar beberapa nama. Satu pakai nama lelaki, kemudian dijawab oleh perempuan, tapi semuanya orang sama dan tulisan beberapa ejaannya sama.

    Sebenarnya orang inilah yang berlakon berjidal- dia yang berjidal dengan syaitan dalam diri dia. Ada tak salafi nak buktikan tauhid tu ada 3 juzuk? Ada hadis, ada Al-Quran…

    Kalau tak ada tak payah jidal, sebab hujah tu hujah bidaah sahaja..

    Satu lagi kegagalan dalam berhujah oleh salafi

  15. Mereka mereka yg taksub dan fanatik kepada fahaman & individu individu tertentu (especilly syeikh syekh mereka yg tak ma’sum) sememang sukar utk
    menerima dalil yg terang dan jelas dri Quran walau pun turun malaikat di hadapan mereka memberitahu inilah yang benar! maka ikutilah jalan ini.

  16. Pembahagian Tauhid berserta dalilnya.
    Rububiyyah

    Yakni mempercayai dan mengakui bahwa hanya Allah dengan menggunakan nama Rabb satu-satunya yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta.

    Kutipan Al Quran surat Az Zumar ayat 62 :Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu

    Pengertian Robb/Robbun :

    Tuhan yang memelihara dan menguasai Al Quran (an-Anaas 114:1), (Al-Fatihah 1:2)
    Pemelihara, Pendidik, Pengatur (Al-Israa 17:24), (Ali-‘Imran 64)

    Makna Allohu Robbun :

    Robbu An-Naas, Robbu Kulla Syai’in, Robbul ‘alamiin, Robbul ‘Arsy = Laa Robba Illalloh “.(Al-An’aam 6:164),)
    (Asy-Syu’araa’ 26:23-28), (Al-Mu’minuun 23:116)

    Wujudnya :

    Kitabulloh wa Sunnatulloh; Hukum ‘Alam. (An-Nahl 16:89),(Al-An’aam 6:38),(Faathir 35:43-44), (Al-Baqoroh 2:164)

    Uluhiyyah/Ibadah

    Bahwa hanya kepada Allah setiap ibadah dialamatkan, dan hanya Allah semata yang layak disembah. Ibadah yang diperuntukkan bagi selain Allah adalah bentuk penyalahan terhadap doktrin tauhid.(Al-Fatihah 1:1-5)

    Ma’na Ilah :

    Mahbubun, Ma’budun dan Mutma’annatun (Al-Baqoroh 2:165), (Al-Baqoroh 2:138), (Al-Kafiruun 109:1-6).

    Allohu Ilaahun :

    Ilahu An-Nas, Ilaahu as-Samaawaati wal Ardl = Laa Ilaaha Illalloh (Al-Baqoroh 2:163), (Al-Anbiya 21:21-22)

    Wujudnya :

    Ibadurrohman / Ibadulloh atau masyarakat manusia yang mengabdi kepada Alloh.Al-Furqoon 25:63-77),(Al-Fajr 89:27-30)

    Asma wa Sifat

    Bahwa sesuai nama dan sifat(karakteristik) Allah yang disebutkan baik oleh Al Qur’an maupun diriwayatkan oleh Rasulullah SAW adalah hanya berhak disandang oleh Allah itu sendiri. Referensi
    * (id) http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=30
    * Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan
    * (id) Kedudukan Tauhid – MediaMuslim.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa serta taat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Orang yang mentadabburi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya.” (Majmu’ Fatawa 15/25)

    Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.

    Jika syetan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai bid’ah dan khurafat. (Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 4)

  17. Mengimani Sifat Rububiyyah Alloh

    Yakni kita menyakini bahwa Alloh lah yang memiliki hak untuk menciptakan, berkuasa dan memerintah. Keyakinan seperti ini sudah dimiliki oleh kaum musyrikin zaman Rosululloh, bahkan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang sombong yang mereka sendiri ragu terhadap ucapannya. Contoh konkretnya yaitu Fir’aun, yang mengaku sebagai tuhan. Alloh berfirman, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Alloh. Maha Suci Alloh, Tuhan semesta alam.” (Al A’raaf: 54) dan “…kepunyaan-Nyalah kerajaan.” (Fathir: 13). Lihat pula bagaimana pengakuan kaum musyrikin tentang rububiyyah Alloh: “Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.’” (Az Zukhruf: 9)

    Dengan demikian kita ketahui bahwa yang punya kuasa memberikan rizki bukanlah malaikat, Nabi atau dewa fulan, juga yang menguasai dan mengatur berbagai macam urusan bukanlah syaikh fulan, wali fulan sebagaimana keyakinan sebagian orang. Namun hanya Alloh yang memberi rizki, mengatur, menghidupkan dan mematikan.

    Mengimani Sifat Uluhiyyah Alloh

    Yaitu hanya Alloh semata yang berhak disembah dan diibadahi. Alloh berfirman, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah: 163). Di sinilah letak titik perpisahan antara seorang mukmin dengan seorang musyrik, dimana kaum mukminin hanya menujukan seluruh aktivitas ibadah hanya kepada Alloh baik itu berupa doa, nadzar, sembelihan, haji, sholat dan ibadah-ibadah lainnya.

    Adapun kaum musyrikin, walaupun mereka mengakui hak rububiyyah Alloh, mereka mengambil sesembahan yang banyak dan beragam, baik berupa benda-benda mati seperti batu, pohon dan matahari. Atau juga sesembahan dari kalangan malaikat, nabi dan orang shalih yang dijadikan sebagai perantara antara mereka dengan Alloh sebagaimana pembesar kerajaan yang menjadi perantara kepada raja. Dan tidaklah seorang pembesar menjadi perantara bagi raja kecuali karena raja sangat butuh atau sangat takut padanya, sehingga bila ada orang datang minta bantuan raja lewat perantara pembesar maka raja mengabulkannya dengan sebab kedudukan pembesar tadi. Sungguh, yang seperti ini tidak bisa disamakan dengan Alloh!

    Para malaikat, nabi dan orang shalih sangat butuh kepada Alloh, mereka berlomba-lomba dengan berbagai amal shalih untuk dekat dengan Alloh. Sedangkan Alloh tidak butuh juga tidak takut pada mereka. Sehingga walaupun kedudukan mereka mulia di sisi Alloh, ini tidak berarti kita boleh mengambil mereka sebagai perantara, melainkan kita langsung meminta pada Alloh. Alasan semacam itulah yang menjadi hujjahnya kaum musyrikin dulu dan sekarang.

    Alloh berfirman, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.’” (Az Zumar: 3). Intinya kita dituntut untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Alloh dan tidak menujukannya kepada selain Alloh, sebagaimana hal ini menjadi tujuan dakwah setiap rosul. Sehingga mereka para rasul Alloh berkata pada kaumnya: “Sembahlah Alloh saja, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq bagimu selain Dia.” (Hud: 50)

    Mengimani Nama-Nama dan Sifat-Sifat Alloh

    Yaitu dengan menetapkan nama dan sifat Alloh sebagaimana telah ditetapkan Alloh di dalam Al Quran atau telah ditetapkan oleh rosul-Nya di dalam As Sunnah, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Alloh, tanpa tahrif (memalingkan makna dari makna yang semestinya), ta’thil (menolak nama atau sifat Allah), takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

    Alloh berfirman, “Hanya milik Alloh asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al A’raaf: 180)

    Demikianlah para pembaca sekalian, keimanan kita kepada Alloh haruslah memuat seluruh empat hal yang di atas, tidak hanya satu atau dua saja. Sehingga kita katakan bahwa keyakinan seseorang bahwa Alloh itu ada ataukah Alloh itu satu-satunya pencipta belum cukup untuk dikatakan telah beriman kepada Alloh, namun juga harus meyakini bahwa Alloh adalah satu-satunya yang berhak disembah dan beriman kepada asma dan sifat Alloh. Semoga Alloh menunjuki kita semua kepada aqidah yang shahih dan mewafatkan kita dalam keadaan muslim. Hanya kepada Alloh kami mohon pertolongan.
    Wallohu a’lam bish showab.

    Abu Yusuf.

  18. Dari pengamatan Ana, berpandukan kepada beberapa artikel tentang 3 Tauhid (Rububiyyah,Uluhiyyah, Asma wa sifat) diakui bahawa kesemuanya mempunyai dalil yang Qat’i mengenainya. Ana agak hairan dalil yg bagaimana yg dituntut oleh saudara kita sokongsalaf dalam masalah ini. Selain itu beliau juga belum menjawap bebrapa pertanyaan ttg kaedah yg digunakan pakai oleh ulama’ khalaf dalam pembahagian ilmu usulluddin & usul fiqh.

  19. Artikel untuk dikongsi bersama:

    Kenapa kita harus mengikuti as Salaf???

    Senin, 07 Mei 2007 – 05:00 PM, Penulis: Al Muhaddist al `Allaamah Muhammad Naashiruddiin al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala
    [Printer-friendly page] [Kirim artikel ini kepada seseorang]

    لماذا نتبع السلف؟؟؟

    Kenapa kita harus mengikuti as Salaf???

    Jawaban dari pertanyaan ini akan kita dengarkan dari seorang imam ahlil Hadist pada zaman ini yaitu; al Muhaddist al `Allaamah Muhammad Naashiruddiin al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala.

    Pertanyaan : Kenapa harus dinamakan dengan as Salafiyyah?? Apakah da`wah ini merupakan da`wah hizbiyyah, atau da`wah thooifiyyah atau da`wah madzhabiyyah, atau dia ini merupakan satu golongan yang baru dalam Islam ini??

    Jawaban : Sesungguhnya kata kata “as Salaf” ma`ruufun (sangat dikenal) dalam bahasa `arab dan di dalam syari`at ini, yang terpenting bagi kita disini adalah pembahasannya dari sisi syari`at.

    Sesungguhnya telah shohih dari pada Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau `Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada anaknya Faathimah radhiallahu `anha sebelum beliau `Alaihi wa Sallam wafat :

    ((فاتقي الله واصبري، فإنه نعم السلف أنا لك……)). رواه مسلم (2450) (98).

    Artinya : “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya sebaik baik “salaf” bagi kamu adalah saya…”[1]

    Penggunaan kalimat ‘salaf” sangat ma`ruf dikalangan para `ulama salaf dan sulit sekali untuk dihitung dan diperkirakan, cukup bagi kita satu contoh dari sekian banyak contoh contoh yang digunakan oleh mereka dalam rangka untuk memerangi bid`ah bid`ah.

    كل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف

    “Setiap kebajikan itu adalah dengan mengikuti orang salaf dan setiap kejelekan tersebut adalah yang diada adakan oleh orang khalaf”.

    Ada sebahagian orang yang menda`wakan memiliki `ilmu, mengingkari penisbahan kepada “salaf”, dengan da`waan bahwa nisbah ini tidak ada asalnya. Dia berkata : “Tidak boleh bagi seseorang muslim untuk mengatakan saya seorang “salafiy,” seolah olah dia mengatakan juga : “Tidak boleh bagi seseorang mengatakan saya muslim yang mengikuti para “salafus shoolih” dengan apa apa mereka di atasnya dalam bentuk `aqidah, `ibadat dan akhlaq.” Maka tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran seperti ini kalau benar benar dia ingkari, sudah tentu diwajibkan juga bagi dia untuk berlepas diri dari Islam yang benar, yang telah dijalani oleh para “salafus shoolih”, Rasuulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan dalam hadist hadist yang mutawaatir diantaranya :

    ((خير أمتي قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم)).

    Artinya : “Sebaik baik ummat saya adalah yang hidup sezaman dengan saya (sahabatku), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Taabi`uun), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Baaut Taa`bi`iin)….”[2]

    Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari penisbahan kepada as Salafus Shoolih, sebagaimana kalau seandainya berlepas diri juga dari penisbahan yang lainnya, tidak mungkin bagi seorang ahli `ilmu untuk menisbahkannya kepada kekufuran atau kefasikan.

    Orang yang mengingkari penamaan seperti ini (nisbah kepada “salaf”). Apakah kamu tidak menyaksikan, bukankah dia menisbahkan dirinya kepada satu madzhab dari sekian madzhab yang ada?, apakah madzhab ini berhubungan dengan `aqidah atau fiqh. Sesungguhnya dia mungkin Asy`ariy, Maaturiidiy dan mungkin juga dia dari kalangan ahlul hadist atau dia Hanafiy, Syaafi`ii, Maalikiy atau Hanbaliy diantara apa apa yang termasuk kedalam penamaan ahlus Sunnah wal Jamaa`ah, padahal seseorang yang menisbahkan dirinya kepada madzhab asy`Ariy atau kepada madzhab yang empat, sebenar dia telah menisbahkan dirinya kepada pribadi pribadi yang bukan ma`suum tanpa diragukan, walaupun diantara mereka ada juga para `ulama yang benar, alangkah aneh dan sangat mengherankan sekali, kenapa dia tidak mengingkari penisbahan kepada pribadi yang tidak ma`suum ini???

    Adapun seorang yang mengintisabkan dirinya kepada “as Salafus Shoolih”, sesungguhnya dia telah menyandarkan dirinya kepada seseorang yang ma`suum secara umum (yang dimaksud Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam), Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menyebutkan tentang tanda tanda “al Firqatun Naajiyyah” yaitu seseorang yang berpegang teguh dengan apa yang Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shohabatnya ada di atasnya, maka barang siapa yang berpegang teguh dengan jalan mereka secara yaqin, dia betul betul berada di atas petunjuk Robnya.

    Nisbah kepada “as Salaf” ini merupakan nisbah yang akan memuliakan seseorang menisbahkan dirinya kepadanya, kemudian memudahkan baginya untuk mengikuti jalan kelompok orang yang selamat tersebut, tidak sama dengan seseorang yang menisbahkan dirinya kepada nisbah yang lain, karena penisbahan itu tidak akan terlepas dia diantara dua perkara :

    Pertama, dia mungkin meng-intisabkan dirinya kepada seseorang yang bukan ma`suum, atau kepada orang orang yang mengikuti manhaj (methode) orang yang bukan ma`suum ini, yang tidak ada sifat suci baginya, berbeda dengan shahabat Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam yang memang diperintahkan kita oleh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam untuk berpegang teguh dengan sunnah (cara/methode)nya dan sunnah para shahabatnya setelah beliau wafat.

    Dan kita akan terus menerus menganjurkan dan menerangkan agar pemahaman kita terhadap al Quraan dan as Sunnah benar benar sesuai dengan pemahaman para shahabatnya Shollallahu `alaihi wa Sallam, supaya kita terjaga daripada berpaling dari kanan dan kekiri, juga terpelihara dari penyelewengan pemahaman yang khusus, sama sekali tidak ada dalil yang menunjukan atas pemahaman itu dari Kitaabullahi Subhaana wa Ta`aalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam.

    Kemudian, kenapa tidak cukup bagi kita untuk menisbahkan diri kepada al Quraan as Sunnah saja?

    Jawabannya kembali kepada dua sebab :

    Pertama : Berhubungan dengan nash nash syar`ii.

    Kedua : Melihat kepada keadaan firqoh firqoh (golongan golongan) islaamiyah pada sa`at ini.

    Ditinjau dari sebab yang pertama : kita menemukan dalil dalil syar`ii memerintahkan untuk menta`ati sesuatu yang lain disandari kepada al Kitab dan as Sunnah, sebagaimana dikatakan oleh Allah Ta`aalaa :

    ((يأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم….)) النساء (59).

    Artinya : “Hai orang orang yang beriman, tha`atilah Allah dan tha`atilah RasulNya, dan ulil amri diantara kalian.” An Nisaa` (59).

    Kalau seandainya ada waliyul amri yang dibai`at dikalangan kaum muslimin maka wajib untuk mentha`atinya sebagaimana kewajiban mentha`ati al Kitab dan as Sunnah, bersamaan dengan demikian kadang kadang dia salam serta orang orang disekitarnya, namun tetap wajib mentha`atinya dalam rangka mencegah kerusakan daripada perbedaan pandangan pandangan yang demikian dengan syarat yang ma`ruuf, demikian disebutkan dalam hadist yang shohih :

    ((لا طاعة في معصية إنما الطاعة في المعروف)).

    Artinya : “Tidak ada ketha`atan di dalam ma`shiat, sesungguhnya ketha`atan itu hanya pada yang ma`ruuf.”[3]

    Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa berkata :

    ((ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا)). النساء:(115).

    Artinya : “Barang siapa menyakiti (menyelisihi) as Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam setelah sampai (jelas) kepadanya hudan (petunjuk), lalu dia mengikuti bukan jalan orang mu`minin (para shahabat), kami akan palingkan dia kemana sekira kira dia berpaling, lalu kami akan masukan dia keneraka jahannam yang merupakan sejelek jelek tempat baginya.” An Nisaa (115).

    Sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla Maha Tinggi dan Maha Suci Dia dari sifat kesia sia-an, tidak diragukan dan disangsikan lagi bahwasanya penyebutan jalan orang mu`miniin pada ayat ini sudah tentu ada hikmah dan faedah yang sangat tepat, yaitu; bahwasanya ada kewajiban yang penting sekali tentang pengikutan kita kepada Kitaabullahi Subhaana wa Ta`aalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam wajib untuk dicocokan dengan apa apa yang telah dijalani oleh orang muslimiin yang pertama dikalangan ummat ini, mereka adalah shahabat Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam; kemudian orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, inilah yang selalu diserukan oleh ad Da`watus Salafiyyah, dan apa apa yang telah difokuskan dalam da`wah tentang asas asas dan tarbiyahnya.

    Sesungguhnya “ad Da`watus Salafiyyah”-merupakan satu satunya da`wah yang haq untuk menyatukan ummat ini, sementara apapun bentuk da`wah yang lain hanya memecah belah ummat ini; Allah `Azza wa Jalla berkata :

    ((وكونوا مع الصادقين)). التوبة (119).

    Artinya : “Hendaklah kamu bersama orang orang yang benar.” At Taubah (119), dan barangsiapa yang membedakan diantara al Kitaab dan as Sunnah disatu sisi, dan antara “as Salafus Shoolih disisi yang lainnya dia bukan seorang yang jujur selama lamanya.

    Ditinjau dari sebab yang kedua : Kelompok kelompok dan golongan golongan pada hari ini sama sekali tidak menghadap secara muthlaq untuk mengikuti jalan orang mu`miniin (jalan para shahabat radhiallahu `anhum) seperti yang disebutkan pada ayat diatas, dan dipertegas lagi dengan sebahagian hadist hadist yang shohih diantaranya : hadist al firaq (mengenai perpecahan) menjadi tujuh puluh tiga gologan, yang keseluruhannya di neraka kecuali satu, Rasuulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang sifatnya bahwasanya dia :

    “هي التي على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي.”

    Artinya : “Dia (al Firqatun Naajiyyah) itu adalah sesuai dengan apa apa yang saya hari ini dan para shahabat saya.”[4]

    Dan hadist ini serupa dengan ayat diatas menyebutkan jalan orang mu`miniin, diantaranya juga hadist al `Irbaadh bin Saariyah radhiallahu `anhu :

    “فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي”.

    Artinya : “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah dan Sunnah al Khulafaaur Raasyidiin al Mahdiyiin setelah saya.”[5]

    Jadi dihadist ini menunjukan dua Sunnah : Sunnatur Rasuul Shollallahu `alaihi wa Sallam dan Sunnatul Khulafaaur Raasyidiin.

    Diwajibkan bagi kita-akhir ummat ini- untuk kembali kepada al Kitaab dan as Sunnah dan jalan orang mu`miniin (as Salafus Shoolih), tidak dibolehkan bagi kita mengatakan: kita akan memahami al Kitab dan as Sunnah secara bebas (merdeka) tanpa meruju` kepada pemahaman “as Salafus Shoolih!!”

    Dan wajib adanya penisbahan yang membedakan secara tepat pada zaman ini, maka tidak cukup kita katakan : saya muslim saja!, atau madzhab saya adalah al Islam!, padahal seluruh firqah firqah yang ada mengatakan demikian : ar raafidhiy (as Syii`ah) dan al ibaadhiy (al Khawaarij/Firqatut takfiir) dan al qadiyaaniy (Ahmadiyyah) dan selainnya dari firqah firqah yang ada!!, jadi apa yang membedakan kamu daripada mereka keseluruhannya??

    Kalau kamu mengatakan : saya muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah juga belum cukup, karena pengikut pengikut firqah firqah yang sesat juga mengatakan demikian, baik al `Asyaairah dan al Maaturiidiyyah dan kelompok kelompok yang lain- keseluruhan pengikut mereka juga menda`wakan mengikuti yang dua ini (al Kitab dan as Sunnah).

    Dan tidak diragukan lagi adanya wujud penisbahan yang jelas lagi terang yang betul betul membedakan secara nyata yaitu kita katakan : “Ana muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah di atas pemahaman “as Salafus Shoolih,” atau kita katakan dengan ringkas : “Ana Salafiy.”

    Dan diatas inilah; sesungguhnya kebenaran yang tidak ada penyimpangan padanya bahwasanya tidak cukup bersandarkan kepada al Kitab dan as Sunnah saja tanpa menyandarkan kepada methode pemahaman “as Salaf” sebagai penjelas terhadap keduanya dalam sisi pemahaman dan gambaran, al `ilmu dan al `amal, ad Da`wah serta al Jihad.

    Kita mengetahui bahwasanya mereka-radhiallahu `anhum- tidak pernah fanatik kepada madzhab tertentu atau kepada pribadi tertentu, tidak terdapat dikalangan mereka ada mengatakan : “Bakriy (pengikut Abu Bakr), `Umariy (pengikut `Umar), `Utsmaaniy (pengikut `Utsman), `Alawiy (pengikuti `Ali) radhiallahu `anhum ajma`iin, bahkan salah seorang dari kalangan mereka apabila memudahkan baginya untuk bertanya kepada Abu Bakr atau `Umar atau Abu Hurairah dia akan bertanya; yang demikian itu dikarenakan mereka betul betul yaqin bahwasanya tidak dibolehkan meng-ikhlashkan “ittibaa`” (pengikutan) kecuali pada seorang saja, ketahuilah dia adalah Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam; dimana beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya melainkan wahyu yang diwahyukan padanya.

    Kalau kita terima bantahan para pengeritik ini bahwasanya kita hanya menamakan diri kita “kami orang muslim”, tanpa menisbahkan kepada “as Salafiyyah”-padahal nisbah itu merupakan nisbah yang mulia dan benar-, apakah mereka (para pengeritik) akan melepaskan dari penamaan dengan golongan golongan mereka, atau madzhab madzhab mereka, atau thoriiqah thoriiqah mereka- yang padahal penisbahan dan penyadaran itu bukan disyari`atkan dan tidak benar?!!

    فحسبكم هذا التفاوت بيننا

    وكل إناء بما فيه ينضح.

    Artinya : “Cukuplah bagi kalian perbedaan ini diantara kita

    Dan setiap bejana akan menuangkan apa apa yang ada padanya.

    Dan Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa yang Menunjuki kita ke jalan yang lurus, dan Dia-Subhaana wa Ta`aalaa- Yang Maha Penolong.

    Diterjemahkan oleh Abul Mundzir-Dzul Akmal as Salafiy

    Dari Majallah as Ashoolah (no.9/86-90), dengan judul : “Masaail wa Ajwibatuha.”

  20. Assalamualaikum, izinkan Ana menulis secara rengkas tentang golongan yang menentang Imam Ibnu Taimiyyah. Mudah mudahan tulisan ini dimenfa’atkan bersama.

    Antara golongan yang menentang beliau ialah golongan Al Asya’irah atau golongan Mu’tazilah yang punyai konsep aqidah yang berbeza. Ini adalah kerana Ibnu Taimiyyah mengithbatkan sifat Kabariyah yang Allah sendiri ithbatkan kepadaNya dalam Quran manakala golongan seperti Al Asya’irah tidak mengithbatkan sifat sifat ini sebaliknya menta’wikannya. Sedangkan Ibnu Taimiyyah tidak. Umpamanya Yadun(tangan) dita’wilkan kepada kuasa Tuhan. Nuzul(turun) dita’wilkan kepada nuzul nikmat Tuhan. Ada pun Ibnu Taimiyyah merujuk kepada pendapat sahabat dan juga kepada pendapat A’immah Arba’ah. Contohnya Imam Malek semasa ditanya : ” Apakah makna Istiwa’ ” Pada permulaan berubah wajah Imam malek mendengar pertanyaan tersebut. Tetapi beliau menjawab : ” Al Istiwa’ Maklum, Al Kaif Majhul, wa Iman bihi wajib, wasual ‘anhu bid’ah” Ma’sudnya ” Istiwa’ sudah dimaklumi, caranya tidak diketahui, beriman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya bid’ah”

    Bersemayam Allah dima’lumi caranya yang layak bagi keAgungan Allah. Ada pun cara bagaimana bersemayamNya hanya Allah yang tahu. Beriman dengan Istiwa’ Allah wajib, mempersoalkan tentang Istiwa’ adalah bid’ah sebab itu Imam Malek sangat marah kepada orang yang bertanya. Kalau kita tanya begini…begini… seolah olah kita hendak mengatakan Allah menyerupai mahluknya.

    Inilah aqidah yang sebenar benarnya yang difahami oleh salaf as soleh dari dahulu sehinggalah sekarang. Ada pun mereka yang menasabkan diri kepada fahaman Asya’irah menuduh golongan salaf termasuk Ibnu Taimiyyah mentasybihkan Allah dengan mahluknya sebab katanya sifat kabariyah Allah itu harus ditahrif dan dita’wilkan maknanya supaya tidak terjadi penyerupaan Allah dengan mahluknya. Inilah dia salah satu perkara yang menjadi pertentangan antara salaf dan khalaf sehinggalah ke hari Qiamat……..

    Insya’Allah, jika ada kesempatan Ana akan menyambung lagi tulisan ini…

  21. Assalamualaikum,
    Sambungan tulisan mengenai golongan yang menentang Ibnu taimiyyah.

    Sebagaimana tulisan Ana yang lalu, Ana mengatakan bahawa golongan Asya’irah menta’wil sifat sifat kabariyah Allah sedangkan Ibnu Taimiyah tidak menta’wil. Maka disitu timbulah pertentangan dua pendapat .
    Dikesempatan ini Ana menyambung sedikit lagi mengenainya. Ana cuba gunakan pendekatan yang mudah supaya dapat difahami oleh semua golongan.

    Ana mulakan dengan firman Allah yang berbunyi ” Tidak ada sesuatu yang menyerupainya dan Dia maha mendengar”

    Ibnu Taimiyah membawa konsep mengithbatkan sifat Kabariyah Allah dan merujuk kepada aqidah as salaf. Pada ketika itu ramai ulama’ ulama’ membawa konsep atau tafsiran yang berbeza. mereka itu dikenali dengan nama golongan Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, atau pun sekurang kurangnya Al Asya’irah. Golongan golongan tersebut meta’wilkan ayat ayat sifat kabariyah Allah. bermakna terdapat dua golongan yang utama iaitu golongan dari kalangan Ahli Sunnah Wal jama’ah dan satu lagi dari golongan Mu’tazilah dan yang sepertinya.

    Terdapat didalam golongan yang kedua mereka daripada kalangan ahli Tasawuf Falsafi seperti Ibnu Arabi, Al Hallaj dan sebaginya. Al Hallaj pernah menyebut ” Allah Fi Jaibi” maknanya Allah dalam poket saya” dan dia mengatakan ucapan itu keluar dari syathahatnya. Dia tidak sedar pada masa fana. Apabila dia bercakap begitu dalam keadaan fana maka ia tidak menjadi kesalahan. Inilah pendapat orang mempertahankanya. Bagi kita yang berpegang dengan fahaman Ahli Sunnah, ini dianggap salah dan boleh syirik.

    Satu lagi golongan yang menentang beliau ialah dari kalangan ulama’ feqah. Ibnu Taimiyah kadang kadang mengeluarkan pendapat yang berbeza dengan Mazhab Abu hanifah, Syaf’i, Ahmad Hanbal dan Imam Malek. Ini berlaku apabila apabila ada hadith soheh yang bercanggah dengan pendapat Imam Imam tadi seperti talak tiga dalam sekali lafaz menurut beliau adalah jatuh satu talak sahaja. ( Ma’af Ana tak kemukakan dalil dri Inbu Timiyah). Begitu juga kalau melafazkan cerai dalam keadaan mabuk atau dipaksa tidak jatu talak. Hukum hukum seperti ini menimbulkan kontravesi dikalangan ulama’ feqah ketika itu. Ana ada terjumpa didalam buku yang ditulis oleh Mahmud Mahdi Al – Istanbuli ” Ibnu Taimiyah Batal Islah al- Dini” ia mengatakan konsep feqah yang dikemukan oleh Ibnu Taimiyah akhirnyatelah dilaksanakan di Mesir dalam ” Qanun Al Ehwal Al Syakhsiyah ( undang undang Al Syakhsiyah dan keluarga ) di Mesir.

    Ana rasa setakat itulah saja dahulu yang dapat Ana coretkan pada tulisan yang tak seumpamanya ini. Harapan ana semuga tulisan ini dimenfa’atkan. Jika ada masa terluang ingin rasanya Ana menulis Sejarah perjuangan para ulama’ terdahulu dan sekarang tak kira siapa dia baik yang disukai oleh orang atau yang tidak disukai. Kemungkinan selepas ini Imam Abu Hasan Al Asya’ari rahimahullah.

    Alahua’lam

  22. Ana nak tambah sikit ttg salaf salafi.

    1. Salaf ialah Rasullullah sendiri. Nabi pernah berkata kepada anaknya Fathimah radhiallahu `anha sebelum beliau `Alaihi wa Sallam wafat : (Artinya : “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya sebaik baik “salaf” bagi kamu adalah Aku…” ) Al Hadith.

    2. Salaf adalah para sahabat dan orang orang yang mengikuti mereka ini dengan ihsan sehinggalah hari Qiamat.

    3. Salaf ialah orang yang awal awal masuk Islam dari golongan Ansar dan Muhajirin.

    Salaf bukan Mazhab atau Idealogi. Ia adalah Method para pendahulu dalam memahami Islam.

    Problemanya la ni… orang yang menisbahkan diri dengan salaf dimusuhi, diperangi, malah di tuduh sesat tak lain tak bukan adalah kerana yang menisbahkan diri kepaada salaf tidak betol betol faham siapa itu salaf yang sebenarnya. tak memahami metode yang dibawa oleh salaf as soleh terdahulu. Maka timbullah apa yang dikatakan org khalaf ” puak puak yang suka membid’ahkan orang” golongan yang suka mengkafirkan orang. golongan yang suka menimbulkan perpecahan dikalangan ummat. golongan yang kejanya tak lain asyik menjarh orang dan bermacam macam lagi.

  23. Salaf perkataan elok, tapi yang tak elok orang yang bernama ‘salafi’, mereka telah hijack perkataan salaf untuk group mereka.

    Walhal perangai dan tingkah laku mereka bukan salaf, hukum islam diremeh-remehka, pergi ke mana-mana sibuk dengan isu bidaah dan khurafat, tapi isu hudud, huquq, bayyinat dan uqubat. dicampakkan entah ke mana.

    Ini bukan salaf, ini mustaslif (berpura-pura salaf).

  24. Walhal perangai dan tingkah laku mereka bukan salaf, hukum islam diremeh-remehka, pergi ke mana-mana sibuk dengan isu bidaah dan khurafat, tapi isu hudud, huquq, bayyinat dan uqubat. dicampakkan entah ke mana.
    Musa Mohd.

    Dri penelitian Ana melalui vcd dan buku buku ustaz ustaz salafi yg pernah Ana baca dan tonton, tidak benar mereka meremehkan hukum Islam (hudud,Qisas dan lain lain) tak ada bukti. Dalam halaqah, kajian atau seminar working paper mereka di penuhi dgn ilmu.Menerangkan definasi bid’ah,dan bahayanya terhadap masyarakat,memberi inzar supaya menjauhi khurafat dan tahyul dan so on.Tidak juga mereka ini mudah membid’ahkan org sewenang wenangnya.Ana nasihatkan kalau dapat bertabayyunlah dengan mereka secara empat mata jangan terlalu mudah membuat membuat sangka sangka yang tidak benar. Sesungguhnya sangka buruk itu boleh menjerumuskan kita ke lembah kehinaan.

    ansarussunah.

  25. Assalamua’laikum,saya dengan tidak malunya ingin mengadili perdebatan antara antum sekalian.

    Berdasarkan hujah yang diberikan, maka dengan itu
    saya memutuskan isu ini sangat menarik.

    apa yang saya hendak katakan ialah mari kita fikirkan di manakah sebenarnya Islam itu bertapak ?
    Malaysia,indonesia, thailand,…………………….? Di tanah arab kan kalau x silap saya. Lihatlah tanah arab adakah mereka sehati sejiwa? tidak bukan kerana apa? kerana mereka juga ada puak sunnah dan puak apa a,hehee saya da lupa laaaa.

    Tapi yang penting mereka juga berpecah belah iaitu mempunyai pegangan dan fahaman yang berbeza. Itu d tanah arab syeikh tambahlah kita di Malaysia. Kenapa terjadi keadaan seperti ini
    inilah yand dinamakan sunatullah.

    Kembalilah kepada al-Quran dan hadis. x yah nak pening2 kepala. ingat kat mana sebenarnya islam itu bertapak…….

  26. fatwa kerajaan johor mengharamkan bebarapa buku rasul dahri. berhati-hati dengan tulisan rasul dahri. Orang awam patut berhati-hati…..

  27. ass…kum
    cita-cita setiap muslim unmtuk mencari ridhonya dan mati dengan keridhoannya. Tak sempurna iman seorang muslim sebelum ia mencintai sesamanya seperti mencintai dirinya. sedang Allah hanya menerima iman yang sempurna.Allah akan menutup aib seorang muslim bila ia menutup aib sesama muslim. Dan akan membuka aib kita bila menyebarkan aib sesama muslim. Bila Allah telah membuka Aib kita tak ada orang yang dapat menutupnya dan bila Allah tlah menutup aib kita tak ada seorangpun yang dapat mmbukanya..

  28. IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.
    Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

    “ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat beliau.

    Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

    kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”

    NIH KITABNYA KLO GA PERCAYA :
    SAMPUL KITAB

    NIH BACA YANG DIGARIS MERAH :

    dalil sekuat itu pun belum cukup, kebiasaan orang2 yahudi adalah terus2 bertanya,
    sebenarnya ulama salaf man yang kalian ikuti?
    imam hanifah berguru langsung dgn para sahabat, hidup pada zaman khalifah ali Ra. kiab wasiat imam hanafi ini merupakan salah satu kitab2 rujukan dalam kitab2 aqidah aswaja, tapi kenapa wahabi tidak memakainya?

    padahal bukti dan hujjah sudah jelas…… :
    Bukti wahabi memfitnah ulama2 ahlusunnah wal jamaah :
    1. Fitnah wahabi : Kafirkan imam nawawi dan ibnu hajar
    lihat karangan syaikh utsaimin ini….
    Muhammad Soleh Uthaimien menyatakan bahawa :
    “IMAM IBNU HAJAR AL-ASQOLANY ( PENGARANG FATHUL BARI SYARAH SOHIH BUKHARY) DAN JUGA IMAM NAWAWI ( PENGARANG SYARAH SOHIH MUSLIM) KATA WAHHABI : NAWAWI DAN IBNU HAJAR ADALAH PEMBUAT KESESATAN DAN NAWAWI SERTA IBNU HAJAR BERAQIDAH SESAT DAN MEREKA BERDUA ADALAH KAFIR”!!.

    scan sampul kitab wahabi :

    Scan Halaman, lihat yang di line Kuning :

    2. Fitnah wahabi : thd imam asy’ary tentang kitab al ibanah
    katakan bahwa imam asy’ary mensifati allah dgn temapat dan arah, berdiam di arsy
    sangat banyak ditemukan, coba buka yang di submit rekan ente pada awal2 diskusi lalu asy’ary.saya beberapa kali debat dgn ustadz salafy, maka dia dgn bangga mengatakan hal ini……suatu kebohongan nyata….

    padahal dalam kitab tsb isinya :

    Imam Abu Hasan Al-Asya’ary menyatakan : ” Istiwa Allah bukan bersentuhan, bukan menetap, bukan mengambil tempat, bukan meliputi Arasy, bukan bertukar-tukar tempat, bukanlah Allah di angkat oleh Arasy bahkan arasy dan malaikat pemikul arasylah yang diangkat oleh Allah dengan kekuasaanNya, dan mereka dikuasai oleh Allah dengan keagunganNya “. Lihat kitab di atas yang telah Disacn dan perhatikan pada line yang telah dimerahkan.

    sampulnya :

    lihat yang, di line merah :

    …..kita tidak bisa memahami agama seperti salafussholih terdahulu karena kurangnya mujahadah kita dalam agama……
    Lemahnya ilmu dan iman kita menjadi hijab hidayah pada hati kita, sehingga hujjah2 yang nyata pun tidak lagi berkesan dihati kita……….
    dalam kitab ihya dikatakan : Hijab yang paling besar untuk hidayah adalah orang yanag merasa ber ilmu seperti abujahal …………
    Allahummahdi ummata sayyidina muhammad….amin

  29. Saya ingin membawakan pendapat daripada rencana yang terdapat dalam Utusan Malaysia 27/4 untuk memberi repon terhadap kenyataan Di Mana Allah? oleh Ust Rasul Dahri…..

    Tuhan tidak tertakluk kepada tempat

    SOALAN: Saya diberitahu bahawa Allah s.w.t. itu berada di atas Arasy atau di langit kerana Nabi dinaikkan ke langit apabila hendak menerima ibadat solat, dan amalan kita juga diangkatkan ke atas. Jadi Tuhan itu berada di atas dan tidakkah pendapat seperti ini, bererti Tuhan itu bertempat seperti kita pula. Adakah benar pendapat seperti itu atau bagaimana?
    – Murni dan Majdi.

    JAWAPAN: I’tiqad yang sebenar dan selamat menurut ahli sunah itu, tidak boleh kita mengatakan Allah itu bertempat dan terikat dengan masa atau berpihak, beranggota seperti kita. Ini kerana berdalilkan kepada ayat yang muhkam dari al-Quran yang mengatakan Allah itu, tidak menyerupai sesuatu (maksud ayat 11 dari surah Syura dan ayat 4 dari surah al-Ikhlas). Adapun ayat yang mengatakan Allah bersemayam atas Arasy itu, atau naik kepada-Nya perkataan yang baik-baik itu, adalah dari ayat mutasyabihat yang mana ayat tersebut tidak boleh difaham secara zahir yang tidak layak dengan kebesaran-Nya mengikut mazhab ahli sunah kerana firman Allah bermaksud: Allah menurunkan ke atasmu kitab (al-Quran) yang terdapat daripadanya ayat muhkamat yang merupakan ibu (tempat kembali bagi ayat yang mutasyabih) dan ada juga ayat-ayat lain yang berbentuk mutasyabihat. Maka orang yang ada dalam hatinya penyakit zaigh (songsang dari jalan petunjuk kebenaran) akan terus mengikut apa yang kesamaran dari ayat mutasyabihat tadi kerana mencari fitnah (terutama kalangan orang awam) dan mencari takwilan sahaja, (sedangkan tidak ada siapa yang tahu takwilan itu selain Allah) manakala orang yang rasikh dalam ilmunya (para ulama) akan berkata kami beriman dengannya (segala ayat-Nya) semuanya dari Tuhan kami (al-Imran ayat 7). Mereka terus mengembalikan ayat mutasyabih tadi, kepada ayat yang muhkamat itu, (kepada induknya), dengan mentafsirkannya sesuai dengan makna ayat yang muhkam tadi seperti dikatakannya bahawa, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah itu, dari apa yang mereka (sifatkan) sekutukan itu (menyerupai makhluk-Nya) (maksud ayat 68 dari surah al-Qasas dan banyak ayat lain lagi).
    Jadi segala ayat atau hadis yang pada zahirnya nampak bersamaan Allah dengan makhluk yang baru ini seperti bertempat, beranggota, dan sebagainya semuanya, dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat yang menjadi induknya (ibunya) tadi. Sebab itu ulama khalaf akan mengatakan bahawa Allah itu, Maha Berkuasa bila terdapat ayat kesamaran seperti tangan. Atau rahmat dan ilmu-Nya, bila ada ayat yang menggambarkan Allah itu hampir dengan hamba-Nya. Atau kuasa pemerintahan-Nya bila terdapat ayat yang mengatakan Allah itu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi maksud firman-Nya pada ayat 84 surah Zukhruf. Ini semua sesuai dengan firman-Nya bermaksud: bahawa Allah Amat Berkuasa atas segala-galanya (al-Baqarah ayat 259) dan Dia bersama kamu di mana kamu berada (surah al-Hadid ayat 4) dan banyak contoh lain lagi.
    Punca perselisihan adalah kerana mereka tidak mahu menerima ada kalam yang majaz atau berbentuk balaghah dalam al-Quran seperti Imam Ibnu Taimiah yang menolak percakapan berbentuk majaz tasybih dan tamsil dan sebagainya, sedangkan al-Quran itu diturunkan kepada manusia yang penuh mengandungi kalam majazi, tasybih dan balaghi. Mazhab khalaf adalah lebih sesuai dengan orang awam lagi mudah difahami supaya manusia benar-benar dapat mengenali Tuhan-Nya dan tidak akan menyekutukan-Nya atau menyerupai-Nya dengan sesuatu yang lain. Ketahuilah bahawa mereka sendiri sudah terperangkap dengan apa yang mereka takuti dan menuduh kita selama ini (syirik kepada Allah). Ingatlah bahawa tidak ada yang salahnya kalau kita tafsirkan mana-mana ayat mutasyabih itu dengan ayat muhkam malah kita diajar supaya bertindak, demikian dalam ayat 7 surah al-Imran tadi. Kalau mereka kata kita cuba mentakwilkan ayat- ayat Allah, kita jawab: tafsir kita akan ayat mutasyabih dengan yang muhkam tadi adalah disuruh dan dibenarkan. malahan itulah cara orang yang beriman kepada-Nya. Mereka tidak akan sesat selama-lamanya selagi berpegang dengan kitab Allah. Kita hairan kenapa di tempat lain mereka bermati-matian mengatakan ada pula dalam al-Quran atau hadis itu kalam majaz, balaghah dan sebagainya. Contohnya bila mengenai talkin orang mati mereka pakaikan perkataan orang mati (mautakum) itu, kepada orang yang sakit tenat dan hampir mati pula. Kaedah apa yang mereka pakai bukankah, itulah majaz namanya. Inilah tanda kecelaruan dan fitnah dari penyakit zaigh yang lahir bila kita bersikap sombong tidak mahu bertanyakan ulama. Nanti takut taqlid kepada mereka pula, kerana mereka mahu ikut Allah dan Rasul-Nya sahaja. Sedangkan Allah mengarah kita supaya bertanya dan mengikut ulama (surah al-Nahl ayat-43) kerana mereka (ulama) mengikut Allah dan Rasul-Nya. Wallahualam.

    Timbul satu persoalan?
    Adakah RD seorang yang angkuh dengan menuduh sama sekali akidah semua ahli IM tidak mengikut jamaah. walaupun jelas beliau tidak mengkafirkan mereka tetapi jelas sekali arahnya ke situ……

  30. Di dalam mempertahankan aqidah atau amalan feqah, sepatutnya al Quran dan Hadith yang menjadi nas dan dalil. Sila nyatakan ayat-ayat al Quran surah apa dan nombor apa. Manakala Hadith pula riwayat siapa dari siapa dan darjat Hadith tersebut. Harap jangan gagal.

  31. Sila rujuk fakta nya di bawah:

    [audio src="http://rasuldahri.com/download/index.php?dir=MP3%20Kajian%20ImamSyafie%202007/&file=070421%20Sebenarnya%20Syafie.mp3" /]

  32. Salam semua..
    Kaifa halukum..

    Kepada saudara2 yang masih membantah tauhid itu ada 3peringkat pada dasarnya,ana ingin tanyakan pada antum….Adakah antum semua membaca surah Al-Fatihah dan memahami apa yang antum bacakan???

    Sekiranya antum menghayati surah Al-Fatihah sahaj,antum semua boleh mengetahui dari mana datangnya 3 peingkat tauhid ini….Dalam sebuah hadis Qudsi Allah menyatakan mengenai Al-Fatihah ini….

    Saya akan huraikan dimanakh 3 peringkat tauhid ini….

    Antum baca Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin….
    Antum sudah mengiktiraf Tauhid Rububiyyah yang mana antum mengakui Allah-lah Tuhan semesta Alam yang mencipta,memberi rezeki,menghidupkan,mematikan dan lain2 sifatnya yang agong.Walau bagaimanapun,Tauhid ini masih belum dapat memisahkan antara kita(islam) dengan orang2 bkan islam kerana semua agama iktirf tauhid ini secara semula jadi….Firman Allah dalam surah Al-Luqman “Dan apabila ditanyakan kepda mereka (org kafir) siapakh yang menciptakan Langit dan Bumi,meraka akan katakan ALLAH”…..

    Adapun Antum membaca Ar-Rahmanirrahim….
    antum iktiraf Tauhid Asma Wasifat…
    Allah mempunyai banyk nama dan hanya dikhabarkan dan perlu diketahui adalah 99 nama.Setiap nama Allah dapat diketahui sifat-sifatnya….Allah Al-Malik(namaNYa) maknenya dialah yang memiliki setiap sesuatu(inilah sifatNYA).Tauhid ini juga masih belum dapat memisahkan antra Islam dan Kafir kerana Syaitan juga mengiktirf Tauhid ini….Sehinggalah antum mambaca IYyakana’bu waiyyakanas ta’inn…..

    Disinilah terbitnya Tauhid Uluhiyyah yang memisahkan Antara kita dengan Ahli Kuffar…..
    Allah bersabda dalam kitabNYa…”Dan tidaklah aku menciptakan manusia dan Jin itu melainkan untuk mengabdikan diri kepada ku”.

    Hal ini jauh berbeza jika dibandingkan dengan sifat 20 yang mana hanya iktiraf 20 sahja sifat Allah,malah mereka membahagikan kepada sekian…sekian….malah menghadknnya.Adakh ini yng diajarrkn Allah dan RasulNYA.Bolehkah antum memberikan hujah2 antum????Wahai kaum yng allergik 3 pringkat tauhid ini…

    Bagi ana,kita patut berfikran terbuka tanpa taasub kepda seseiapa melainkan seseorang itu membawa hujah2nya berlandaskan Al-Quran dan Sunnah…..Tidak guna sekiranya kita banyk ibadah dan jihad,tapi aqidah kita salah….Aqidahlah yng membezakan kita dengan Orang bukan Islam………

    Wallahu a’lam…….

    “Ya Allah,Engkau bukakanlah hati-hati kami supaya menrima apa-apa yang benar disisi Engkau…Ameennnn…….”

  33. Assalamualaikum semua…
    Setelah membaca sedikit sebyk posting yang telah dipaparkan…… saya ingin berpesan kepada diri saya dan sdra2 semua agar bertakwa kepada Allah. Bagi saya kehebatan seseorang Muslim itu tidak terbukti, kalau masih gagal dlm melaksanakan amar makruf nahi munkar. Bukan setakat dalam dirinya sahaja, malah peranannya dlm masyarakat, negara dan alami. Cuba tanya kepada diri kita semua yg berdegar2 membicarakan ttg sunnah ke, salaf/salafi ke….. banyak mana kerja amar maaruf nahi munkar yang sdra2 semua telah laksanakan. Berapa orang kafir yg disebabkan sdra sama ada secara langsung ataupun tidak langsung telah memeluk Islam. Setakat mana manusia2 lain blh mengambil contoh keperibadian sdra2 semua? Brp byk harta yg sdra telah infakkan? Baru hari ini saya dengar nama Ustaz Rasul Dahri ini. Pertanyaan khusus kepada beliau,…. adakah beliau telah berjumpa face to face dengan pemerintah Singapura bagi mendakwah mereka ke dalam Islam? Oleh itu kurangkan bercakap ttp banyakkan amal….. Wallahu alam.

  34. saudara… jgn pening kepala.. senang jek.. pengikut salafi kata, belajar sifat 20 tu xde nash, so itu perkara bidaah, senang jek saudara, imam2 salafi ni semua belajar dgn ustaz2 die org ada bawak kitab tak? zaman nabi dulu para sahabat belajar ada bawak kitab tak, nabi ada mengarang kitab fekah, kitab usul, usul-fiqh, ilmu matan dan mcm2 ilmu matan lagi untuk mengajar iman, islam dan ihsan? takde saudara, ulama2 salafi ni kata itu ini bidaah masuk neraka, kalau macam tu rasul dahri dh para2 ulama salafi pon bidaah laa, pasal menulis kitab, mengarang kitab.

    sedangkan rasul dahri sendiri belajar bahasa arab dan ilmu2 alat yg lain sebab nak faham ilmu2 yang dia nak belajar. sedangkan ada bidaah yang wajib, apa dia? iaitu membukukan al-quran. satu kekeliruan bagi org2 salafi ini. kesian…

  35. kesian kepada saudara cinta islam, bagus cinta islam tetapi dangkalnya pendapat saudara yg mengatakan kaum2 asyariah ni menghadkan sifat tuhan kepada 20 sahaja, sedangkan nama Allah yang disunatkan hafal ada 99, ar-rahman ar-rahim itu nama tuhan dan juga menyatakan tentang sifat Allah yg ar-rahman dan ar-rahim. sedangkan nama Allah lebih lg dr 99 itu x terkira byknya..

    yang sebenarnya kami yg kaum2 salafi yg dikenali sebagai asyaariah, tidak pernah menghadkan sifat Allah hanya kepada 20, ilmu tauhid itu tempat terbitnya adalah al-quran, disusun oleh ulama supaya tau akan manusia itu membezakan apa yg dikatakan makhluk dgn tuhan. sedangkan kaum2 salafi tdak menta’wilkan ayat2 mutasyabihat dgn alasan zaman nabi dulu para2 sahabat tidak menta’wil. saudara2.. al-quran diturunkan dlm bahasa arab, dan kita disuruh membaca al-quran dlm bahasa arab dialek Quraisy. Pada zaman nabi tu para sahabat ni org2 yg betul faseh dn faham dengan mendalam ayat2 al-quran, dlm al-quran itu sendiri mempunyai nilai2 sastera yg tinggi, senang contohnya mcm kita org melayu laa, kalau anak2 kita panjat pokok tiba2 dia jatuh dan kita marah dia kemudian kita kata padanya “haa!! lain kali panjat tinggi lagi biar mati terus” adakah maknanya kita menyuruh anak kita membunuh diri dgn memanjat pokok itu? mestila tidak, tetapi anak kita dia faham bahasa melayu, dan dilain masanya die dh x panjat pokok sebab takut jatuh nnt patah kaki, sbb dia faham maknanya kita melarang dia dari panjat pokok. Kalau kita katakan ayat itu kepada anak arab atau tok2 arab yg pandai sikit2 bcakap bahasa melayu, tentu dikatanya kita ni giler sbb die x faham maknanya, dan x betul2 mendalami bahasa melayu.

  36. Salam….
    kepada ikmal diatas…
    Maaf saya bertanya…Anda bermazhab ape???
    Anda dh kaji kitab2 Imam Syafie???
    Dh kaji kitab kitab2 imam yg empat???
    Kalu x kaji pun,anda dh baca ke dlam kitab2 mereka…..TERUTAMA mengenai ayat2 mutasyabihat????baca n pahamkan dulu….K????

  37. assalamu’alaikum! saya akan tetap menyokong ust rasul bin dahri…

  38. ape2 yg tidak ada nash dari al qur’an dah hadits yang sahih(sahih tau bukkan yg dhaif ataupn maudhu), maka ia tertolak.. jgn jwb dgn hawa nafsu aje… dan jgn suke bertaqlid!

  39. Mungkin saudara ini agak jahil berkenaan aqidah imam syafie.Saya cadangkan belilah buku2 karangan imam syafie jangan sampai orang akan ketawakan saudara apabila masyarakat mula memahami persoalan ini.Belilah buku imam syafie jgn jadi bodoh.tolonglah beli buku imam syafie jangan jadi jahill murakkab

  40. asssalamualaikum,
    pada pemahaman dari pembacaan saya, kata-kata ust rasul dahri bukanlah bermaksud mengatakan bahawa imam shafie termasuk didalam ulama yang membahagikan tauhid kepada tiga bahagian. namun aqidah yang dipegang oleh imam shafie adalah sama dengan pegangan salaf iaitu menegah
    (mengharamkan) takwil, takyif, tasybih dan ta’til terhadap sifat dan zat.

    tulisan diatas sengaja dihitamkan dari perkataan
    ‘dalam memperkatakan……imam besar salafi’ mengapa tidak dihitamkan dari perkataan ‘maka Imam as-Syafie dianggap….higga habis. pemikiran saya hanya dapat merumuskan penulis tersebut sengaja mencari apa yang baginya merupakan kelemahan orang yang berlawanan dengannya. janganlah kita menilai seseorang dengan tilikan prejudis kerana permandangan kita hanya akan nampak betapa kotornya tanah walaupun ia suci untuk tayammum.

  41. ingatkan senang la nak jadik orang islam ni…. lagi dekat lagi teruk nampak perpecahannya……… hancur hancur……hancur..hancur

  42. berebut-rebut nak jadi tuhan yangni salah …yang tu salah..ingat! kita akan d pertangung jawapkan dengan apa yang kita sebutkan TANYA DIRI SENDIRI…….Beraparamaikah yang telah kita islamkan orang yang kafir? Apa penuhkah saf.. d masjid/ surau kampung kita…?apa anak luar nikah kah kita kerana datuk nenek kita yang tidak sempat nak bersalaf akan segala amal? ISLAM D LETAK D HUJUNG LIDAH PADA YANG TAK PAHAM AKAN PUNAH ..MENDABIK HEBAT MENENTANG BATIL AMAL LEMBAB D TUDUH JAHIL…………………WAHAI KAUM MAJUSI! WAHAI KAUM NASRANI! WAHAI KAUM YAHUDI- KALIAN MENJADI SAKSI BENARLAH AKAN HUJAHNYA JUNJUNGAN NABI KAMI- BAHAWA TERPECAH GOLONGAN AKAN KAMI TERNYATA BENAR JANJI NABI! HINGA KAFIR MENGKAFIR SESAMA SENDIRI

  43. Mohon Allah memberi Hidayah-Nya kepada kumpulan Rasul Dahri dan pengikut-pengikutnya. Hidup Abjad..!!

  44. assalamualaikum,
    pertimbangan fakta yang tuan berikan boleh dilihat dari kitab kitab rujukan, dan Ustaz Rasul juga melaksanakan demikian, namun jika terdapat perbezaan tafsiran dan gaya tulisan adengan kefahaman kita, Ustaz Rasul dan masyarakat memang boleh berlaku, Namun apa yang terbaik dirujuk dan dibincang secara ilmiah denaggan semagat ukwah agar kita semua diridhai Allah. Syurga itu Maha Luas , tiada had atau batas ruang kepada mereka yang diRahmati Allah untuk masuk, hanya Amalan kita yang membantu. Oleh itu pertamanya saya mohon agar tuan jangan menggunakan perkataan Pembohongan, saya kira tuan tiada semangat Ukhwah untuk sama sama menghidupkan pegangan Sunnah sepenuhnya. Jika kita kata pembohongan maka natijahnya Ustaz Rasul menipu, tapi kalau kita letakan kecelaruan fahaman tafsiran adalah lebih ukhwah ke arah kebaikan maka natijah kita mencari tafsiran terbaik
    Salam Ukhwah dari saya, doa saya semoga semua kita diRahmati Allah untuk mendapat balasan baik di dunia dan akhirat.
    Ingat Ruang Ganjaran Allah tidak terhad , bukan ganjaran dunia yang terhad dan manusia berebut dan berdengki untuk mendapatkan ganjaran dunia yg sedikit. Allah mencuba manusia dengan ketidak cukupan dan ramai yang gagal atas sifat tamak dan nafsu.

  45. KALO JADI ORANG BODOH JANGAN POLOS BANGET MEMPERLIHATKAN KEBODOHANNYA DENGAN TAMPILAN CERDAS. YAH KALO UNTUK PARA PENGIKUTNYA YANG BODOH YA GK APA SIH. LAWONG ORANG BODOH PASTI DIPIMPIN AMA ORANG BODOH

  46. Ugama jadi bobrek kerno wong pandi … akhire… kabe masuk noroko… jadi kawane.. seng apik di tutupi…

  47. kenapalah nak cabar mencabar… tak kisahlah nak ikut yg mana satu sekali pun, yg penting kita belajar mengenal Allah dan tidak mensyirikkanNya… sbbnya itu yang utama.. dah mati nanti, malaikat tak tanya kita belajar yg mana satu – sifat 20 ke, pecahan tauhid ke.. tp dia pasti tanya tentang ‘sumbangan’ kita dlm mencetuskan perbalahan ini… marilah kita sama2 renung diri kita… kalau anda semua terima pandangan saya ini, hentikanlah perbincangan ini.. semua kita bermaksudkan benda yg sama, cuma kaedahnya shj yg berbeza…

  48. saya setuju dengan pendapat che zaidi. yang penting kita buat yang di suroh dan jauhi yang di tegah. kita berpandukan al Quran dan al sunah waljamaah insallah salamat. pikirkanlah wahai anda semua apakah sudah cukup amalan yang ada pada kita, sumbangankita pada masyarakat dan akhir sekali sentiasa mendoakan kejasteraan keluarga agar tidak terkeluar dari landasan ISLAM. Yang penting sekali menjadi manusia yang soleh dan soleha….. APRIL 18 2009 @ 1903HR

  49. assalamualaikom…pening baca dlm ni..bidas-membidas dan ada kata yg ni betul yang tu x betul..sesungguhnya ilmu Allah itu luas..x tercapai oleh pemikiran manusia.Ilmu kita ni cetek sgt.kekalkan sifat hamba kepada Allah.kita tegakkan agama islam adalah agama yg benar.sebarkan islam keseluruh dunia.selagi kuat kita belajar lagi byk yg kita tidak ketahui…semoga Allah merahmati dan memberi hidayah kepada kita semua…

  50. ntah!!!!!!
    sibuk nak tuduh orang sesat, Rasul Dahari tu mengajar, ilmu yang dia sampaikan tu, kita tafsir dengan bijak…. sama ada nak terima atau tidak…. terletak pada diri,

    sokong salaf. Nikmat berdiskusi ilmiah dan perbezaan pendapat adalah memberi dengan jujur dan menerima kembali dengan Ikhlas dan lapang.

    nasb, menyerang peribadi seseorang itu adalah bacul. dalam diskusi elak kan jadi bacul

    a’isyah, jangan Taksub pada Ustaz yang satu, kita terima ilmu beliau, jangan sampai berNabikan Beliau.

    Katak Tempurung, zaidi, TIRTA, dan ipin, ini diskusi ilmiah, bukan Perpecahan. tolong jadi Profesional skit. kat sini la peluang untuk kita belajar. tak rasa ker kita ni cam kuman, halus betul berbanding mereka2 yang berilmu yang lain.

    Musa Muhd sesuka engkau jer jatuh hukum sebut keburukan orang. tapi betul ker???? kenapa kau cakap cam tue!!!????

    Ikmal!!! aper yang kau merepek ni, aku tak paham

  51. aku jugak mencabar…bila masa pulak ajaran sesat tauhid sifat 20 tu diajar oleh nabi dan juga para sahabat? Syaitan mana yang ajar tu?

  52. salam.. pada saudaraku sufi_gila amatlah malang bila saudara menyamakan ulama2 yg mengamalkan sifat 20 sama seperti saytan! kita sebagai org awam adalah lebih baik duduk tepi dalam permasaalahan ini.janganlah kita menjadi manusia yg menambahkan perpecahan didalam masyarakat.cukuplah perpecahan yg sedia ada, marilah kita bersatu…..lupakan sengkita ….mari kita tegakkan daulah islamiah.

  53. Maaf saya ikut komen.
    Diskusi ini sudah lebih dari cukup. Hujjah yang dibentangkan sudah sangat terang dan jelas. Bagi sesiapa yang Allah berikan petunjuk maka satu seruan pun cukup untuknya. Tetapi bagi orang yang Allah sesatkan maka seluruh alam dan hujjah apapun tak akan boleh membawanya kepada keselamatan.

    Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar untuk persoalan ini insya Allah sudah kita lakukan maksima dan masanya sekarang kita serahkan hasilnya kepada Allah azza wa jal.
    Oleh kerananya, sekarang ini sebaiknya kita urus perkara-perkara lain yang lebih mustahak. Saya takut jika persoalan ini menjadi perangkap syaitan bagi kita semua, sama ada yg pro atau yang kontra.

    Semoga Allah sentiasa rahmati kita semua. Amin.

  54. Kaun salafi perlu menilai semula fatwa mereka tentang haram menentang pemerintah malaysia?..saya yakin dan percaya dengan quran dan hadis muktabar….Namun kita perlu mencari interprestasi baru memandangkan pemimpin dan kepimpinan hari ini agak berbeda dari zaman nabi maupun zaman ibnu taimiyah?…..mungkin nabi melarang atau ibnu taimiyah menolak melawaan pemerintah pada ketika itu kerana mereka masih menegakkan hukum-hukum Alllah,walaupun mereka zalim?…Lihat kini pemerintah hari ini berfahaman sekularisma yang menolak penuh ad-din Islam….Sebaliknya menentang perdana menteri atau UMNO tidak sama dengan menentang Sultan Selaku Ketua agama atau Khalifah?…Kalau puak salafi menentang pilihanraya kerana demokrasi kuffar,maka saya menyeru Rasuldahri jangan pergi mengundi??…Minta rasuldahri jumpa Najib dan Agong Supaya keduanya menerima Islam kaffah?…tunjuk kepada kami cara siasah syariah anda..?Sudah pasti tidak sama dengan cara Hasan Albana atau puak Ahbash??…

  55. Assalammualaikum wahai saudari/dara seugama. Setelah ana mmbaca hampir semua jelas, ana setuju dgn ikhwan jakarta.
    kpd sokongsalaf, bahagialah anta dgn fahaman anta.
    kpd matde, calon diri utk mnjadi PM Malaysia dan dan ana nak lihat perubahan apa yg anta akan lakukan demi menaikkan image Islam. Kadang2 kita belum berada ditempat itu macam2 kita boleh cakap tapi kalau ditakdirkan kita berada ditempat itu dikhuatirkan yg lebih teruk lagi yg terjadi. Yg paling baik doakan agar perintah di beri hidayah dan taufik oleh Allah utk mmerintah dgn baik. Lagi pula esok di hari pengadilan anta tidak di minta pertanggungjawab atas pemimpin, tapi kepimpinan anta pd keluarga anta yg mesti anta pertanggungjawabkan.

  56. Salam saudara semua..

    Sudah-sudahlah bertikam lidah kerana org yang bertaklid buta takkan sedar selama-lamanya ibarat satu sumpahan pada mereka. Kecuali dengan hidayah dari Allah. Sama-sama kita doakan mereka.

  57. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
    Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

    Ash Shaff 61:2-3

  58. napa gaduh2 ni. org ilmu mana gaduh macam ni. yg nak tolak tauhid yg 3 tu, dah ngaji sampai azhar ke belom? jgn silap cakap, gaya cakap awak tu macam nak salahkan org yg beriman dgn tauhid yg 3 tu. untuk org awam macam awak dan kita2 ni, kalau dah percaya Allah tu sa, tunggal. oklah. kalau mampu lagi barulah kaji pecahan ilmu kalam dan ilmu tauhid. coz ilmu ni bukan untuk org awam. bila org awam yg cakap, maka jadilah fitnah macam skang ni. kalau nak blajo, blajo basic dulu yer pakcik n makcik. daftar amik kos usuluddin. dah mantop, baru bleh ceta. hujah tentang agama takleh melenting. xda adab. nak tolak hujah pon biar bijaksana, bukan dengan akal semata. pastikan dalil quran n hadis, disamping ijtihad sahabat. bersatu dalam iman n islam

  59. salam…
    maaf jika saya mencelah,tidak sempurna seseorang manusia itu jika menghina seseorang yang cetek ilmunya..bukan niat saya ingin membesarkan keadaan,cuma saya rasa terkilan kerana kalian semua sanggup mengutuk satu sama lain kerana kalam Allah.pkara begini tidak perlu berhujah tetapi harus dibawa berbincang..sedangkan Rasulullah tidak mengajar umatnya menghina sesama sendiri tetapi mendoakan kesejahteraan orang itu…

  60. Assalamualaikum. Kalau kita benar ikut dgn Aqidah/Manhaj salaf itu, wajiblah kita berhujah berdasarkan Quran & Hadith Sahih. & juga bersertakan dalil & perawi-perawinya. Bukankah itu landasan pertama kita sebagai seorang muslim untuk menyebarkan Islam yg sebaik-baiknya.
    & juga haruslah kita asingkan persoalan yg tiada kaitan dgn ajaran Islam seperti Politik & Bangsa/Kaum/Adat .Bukankah Islam itu untuk semua umat manusia mengenali keesaan Allah?
    Tak elok pulalah jika kita bertikam lidah hanya kerana untuk memperbetulkan apa yg kita rasa salah. Kalau rasa kamu perkara itu salah, Hujah saja dgn bukti2nya. jgnlah sampai mempertikaikan kecetekan ilmu seseorang itu sambil menjatuhkan kehormatannya sedangkan kita wajib untuk menolong yg jahil menjadi berilmu. syukran.

  61. assalamualaikum. saya ni insan lemah dan kurang ilmu. nampaknya lagi byk perbincangan di sini, lagi bodoh saya ini. dan lagi jelas kebodohan umat islam di mata kafirin yg lihat kita berpecah belah. dunia dah nak kiamat. bila lagi kita nak bersatu? kita bersolat menghadap kiblat yang sama, kenapa kita tidak boleh bersatu?

  62. as-salam, kalau asyik nampak kesilapan org lain, kesilapan diri mana nk nampak…

  63. Rasul dahri mubtadi’ dhaallun …

  64. Allah tidak menyerupai segala sesuatu. Tidak berjisim dan berjirim.

  65. Zat Allah tidak bersifat tangan. Zat Allah bersifat maha kuasa. Kun fayakun

  66. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.

  67. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

  68. kalau memang tidak setuju terhadap ustaz Rasul Dahri, kenapa tidak di ajak berbincang langusung, bukan mencabar melalui website atau blog.. karena itu perbuatan pengecut dan pengumpat..

  69. Bahwasanya seseorang yang membuat website atau blok ini hanya untuk bertikai dan memecah belah umat islam adalah sikap orang Jahil dan sifat Yahudi.. Kalau memang tidak suka terhadap suatu pemahaman mohon datang untuk berbincang kepada pihak tersebut.. bukan menjelekkan lewat kata2 karena itu hanya menuruti hawa nafsu dan setan pun tertawa. hahahahahahahahahahahahahahahahahhaahhahahahaahhaahhahahahahahahahahahahahahahahahahahahaahahhahahahhahahahhahhahhahahahhahahhhhhhhhhhahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  70. cakap saja sokongsalaf bukan orang salaf…tapi benci kesumat kepada wahabi…..

  71. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.

    Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

    Allah tidak menyerupai segala sesuatu.

  72. Cuba kaji pengajian sifat 20. Ada pembahagian sifat 20. Semuanya akan terjawab.

  73. Assalamualaikum semua hamba ALLAH Azawajalla Pertama skali saya ingin bersyukur kpd ALLAH SWT trhadap pembahassan anda ini. Bererti betapa kalian semua mencintai agama yg di redhai ALLAH,yaitu agama ISLAM.Lalu anda pun membahasknnya. Alhamdulillah! Disini saya ingin mengatakan sesuatu yg telah dikatakn oleh sepupu dan Sahabat NABI SAW.
    Yaitu drpda Ali Bin Abi Thalib ra
    Ali Bin Abi Thalib berkata pda Sahabatnye: SESUNGGUHNYE ILMU ITU ADALAH DIRIMU. JIKALAU KAMU BRGURU DGN GURU BID’AH MAKA BID’AH LAH JADIMU. JIKALAU KAMU BRGURU DGN GURU SUNNAH MAKA SUNNAHLAH JADIMU. Sekian.. WALLAHULAM

  74. Assalamualaikum. Ana tak faham dengan kita umat Islam hari ni. Berlumba-lumba nak naikkan diri sendiri dan merendahkannorang lain. Para sahabat dan ulama yang ikhlas bertungkus lumus menjaga diri dan orang lain. Dulu telah ada perdebatan antara ulama kalam hingga berpecah umat ini. Kini ianya kembali lagi. Pada Ana, yang ana faham, para sahabat dan ulama salaf amat faham dengan akidah yang benar… hingga suatu peringkat ada manusia yang susah faham. Jadi ada ulama yang berusaha memahamkan. Maka timbullah kaedah-kaedah. Kaedah-kaedah ini macam dalam fekah juga tetap berdasarkan dalil-dalil dan berusaha agar tidak lari daripada kehendak syarak yang sebenar. Bagi ana tidaklah dianggap bid’ah. Contohnya seperti Muaz bin Jabal ditanya oleh Rasulullah SAW tentang cara berfatwa. Rasulullah tak ajar beliau, tapi Rasulullah tanya dan beliau jawab. Oleh kerana ianya pada zaman Rasulullah, dan kebetulan betul dengan caranya, maka Rasulullah membenarkan. Ulama dulu pun sama juga ambil kaedah. Mereka semua bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dan menjadikannya mudah difahamai. Kalau siapa faham dengan cara salaf maka teruskan. Kalau tak faham juga, maka cara khalaf itu digunakan. Tidak semua orang faham dengan cara yang sama. Yang penting sampai matlamat faham. Tak payah bergaduh sesama Islam hingga rosak silaturrahim. Ana bimbang nanti kita faham akidah tapi masuk neraka juga sebab memutuskan silaturrahim. Agaknya itulah yang ana faham…. wallau a’lam. asslamualaikum…

  75. asslamualaikum….
    setuju sgt2 dgn harry..
    nk b’hujah..biar ngn ahlinya…
    kalo anda rs..anda betul2 benar..
    jumpa sndiri ustaz rasul..
    keluarkn hujah2 anda n lihat penjelasan beliau…
    bukan b’hujah mcmni…
    berckap m’gunakan akal2an adalah sifat org jahil..
    wassalam..
    may Allah bless us…

  76. masyaAllah….terlalu nampak bahwa yang punya artikel ini “sakit hati”…….sebab semua ajaran2 asy-‘ariyyah dah terbongkar kekeliruannya….
    -dimana2 klu kebenaran yg sesuai dgn sunnah Nabi telah nampak maka akan dicap sebagai “WAHHABI”…..oelh org2 yg punya penyakit dalam hatinya….
    -ga diMAlaysia aja….di Sini juga begitu…

  77. Penjual tahu kering 100% buatan bukan Islam memakai logo Ummul Qura adalah Rasul Dahri

  78. assakamualaikum, anna pengin coment, coba sekarang antum2 smua tolong carikan yg bnar2 golongan salafus sholeh yg ssuai ajaran Rosul. kalau dah dpt, syiarkan. ana yakin mrka psti ada. smua kok saling menyesatkan. kalau fahamnya mgkin mmng bnar, hanya sj pngikutnya yg blm mmpu mlksnkannya. dah tmptnya manusia tmpt salah dn dosa. jd golongan yg lain mggp sesat. maaf, ana ini orng awam yg pengin slmt akherat. maaf ats kslhn ana. wassalam…

  79. Saya setuju dengan sahabat sahabat diatas yang memberi nasihat. Marilah kita semua berpegang dengan satu ikatan…iaitu ikatan iman. jangan lah berpecah belah.
    Jika Pokok masaalah itu yang sampaikan adalah jelas dan benar di sisi agama maka terimalah..janganlah kita berpecah kerana ranting nya..
    Kalau tidak orang orang alim sekarang berusaha untuk memberi nasihat maka siapa lagi yang akan memberi nasihat..

  80. Assalamualaikum…Saya telah mengikuti bahasan ilmu Tauhid 3 serangkai dan ilmu Tauhid sifat 20,maka saya mengetahui kedua2 ilmu ini bukan disusun di zaman Rasululullah SAW.tabiin,Tabiin at Tabiin. Jelasnya ia disusun oleh umat terkemudian dpd itu yang bergelar ulamak.Dalam keilmuan awal umat Islam sikap moral keilmuan sangat tinggi.Mereka tidak mudah mengecam fikiran orang lain sebagai sesat dan kufur.Mereka membenar apa yang benar dan membantah dan berhujjah terhadap apa yang difikir tidak tepat dan tidak kukuh.
    Ulamak adalah jurubahasa Alquran dan Hadis.Mereka menyusun ilmu2 daripada berbagai tajuk menjadi mata pelajaran tersusun menurut babnya sesuai dengan keahlian bidang masing2 demi untuk kemudahan orang ramai.Dua ulamak telah meyusun ilmu Tauhid yang diterima pakai oleh umat Islam seluruh dunia iaitu Ilmu Tauhid 3 dan Ilmu Tauhid 20.
    Apa yang saya temui di dalam Tauhid 3 serangkai iaitu Rububiyyah adalah bersifat pengakuan,Uluhiyyah itu adalah beperlakuan dan asma u sifat itu mengesakan sifat ketuhanan berpandukan NamaNya.
    Saya telah menemui konsep ketuhanan ini tanpa mengikuti jalan Tauhid 3 serangkai tetapi hanya mempelajari Rukun Iman,Rukun Islam dan Rukun Ihsan sahaja.Saya jadi mengerti Tauhid 3 serangkai adalah rumusan Iman dan Islam.
    Apabila saya meyelidiki pelajaran Tauhid melalui sifat 20 ternyata saya menemui konsep yang sama.Sebenarnya sifat Kamalat Allah SWT itu tiada dapat dihinggakan banyaknya tetapi kita tiada di berati untuk tahu habis kerana kita tidak akan mampu melainkan mana2 yang didirikan dalil atasnya perlulah difahami.20 sifat itu adalah yang dapat dikesan secara qat’i daripada Alquran.Mempelajarinya kita akan menemui konsep Ketuhanan dan kehambaan yang berpenghujung kepada Cinta dan Takut di dalam mengabdikan diri kepadaNya.
    Pada pangkal pelajaran Tauhid 3 serangkai dan Tauhid 20 adalah sama sahaja dalam menentukan kewujudan Tuhan tetapi apabila sampai kepada menentukan hal keadaan diri Tuhan ternyata ianya berpecah dan amat berbeza.Tauhid 3 serangkai menyifati Tuhan bertempat,berkaki tangan dan sebagainya manakala Tauhid 20 pula menakwilkan semua itu.
    Ilmu Tauhid menyelaraskan Iktikad kita dalam bertuhan kepada Allah SWT.Perbezaan dalam tauhid tidak sama dengan perbezaan dalam feqah.Perbezaan dalam feqah membawa manfaat kerana ia akan menyebabkan Syariat Allah dapat diamalkan secara keseluruhannya di dunia ini tetapi perbezaan dalam Tauhid membawa kepada mudarat yang sangat besar kerana ia membawa kepada kafir mengafir sehingga sampai kepada menghalalkan darah walaupun sama2 mengucapkan Asyhaduallailahaillallahu wasyhaduannamuhammadarasulullah….

  81. Salam…

    Beginilah golongan ahli zahir seperti Mazhab Fuqaha (ilmu sifat 20/Usuluddin – idea rekacipta Imam Abu Hassan Asya`ari dan Imam Mansur Muturidiah sekitar 960M) dan Mazhab Wahabi dengan Tauhid Uluhiyyah/Tauhid Robbubiyyah/Asma’ wa Sifat yang muncul di Arab Saudi pada 1921M direkacipta oleh Ibn Taimiyyah sekitar 1300M. Jelas menggambarkan Ilmu Aqidah yang dibanggakan oleh majoriti umat Islam masa kini adalah bertitik tolak daripada ilmu syariat(akal),sebaliknya mereka membuat kesimpulan bahawa inilah ilmu yang wajib dipelajari/difahami/dihayati sebagai hakikat keimanan. Tanpa mereka sedari bahawa ilmu/hujjah/fahaman yang dilonggokkan melalui huraian atau ceramah atau bacaan kitab-kitab hanya bersarang pada akal dan tidak mampu membersihkan hijab nafsu dan hati yang bersifat rohaniah/ghaib. Disinilah pertembungan diantara 2 mazhab aqidah yang berbeza diantara golongan ahli zahir dan golongan ahli rohani(Tasawwuf/Tariqah) yang tidak akan ada kesudahan sampai bila-bila sehingga akhir zaman. Golongan Ahli Tasawwuf/Tariqah melaksanakan amalan zikrullah sebagai amalan kerohanian untuk membersihkan hati dan juzuk nafsu supaya diri mereka terhias dengan sifat-sifat yang terpuji. Amalan zikrullah inilah yang banyak diperintahkan didalam al-Quran yang mulia sebagai amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT(Surah-surah: al-Imran: Ayat 191,al-Ahzab: Ayat 41-42,al-A’raf: Ayat 205,al-Imran: Ayat 41,al-Ahzab: Ayat 35,an-Nisa: Ayat 103,al-Ahzab: Ayat 21,al-Anfal: Ayat 45,al-Jumu’ah: Ayat 10,ad-Dahr: Ayat 26,al-Baqarah: Ayat 203) ini membuktikan amalan zikrullah itu adalah amalan yang menjadi hubungan manusia dengan Allah SWT dari sudut rohani. Oleh kerana keutamaan dan kepentingan amalan ini Allah SWT memerintahkan umatNya supaya melaksanakan amalan zikrullah ini seiring semasa melaksanakan segala amal soleh yang difardhukan seperti sembahyang fardhu,menunaikan Haji di Makkah,berurus niaga/mencari rezeki,berjihad dan berpuasa (Surah-surah Ta-Ha: Ayat 16- Dirikanlah sembahyang untuk mengingati aku/ al-Ankabut: Ayat 45- Sesungguhnya sembahyang itu mencegah kamu daripada perbuatan keji dan mungkar,Dan zikrullah itu adalah seutama-utama ibadah/ al-Baqarah: Ayat 203 : Dan berzikrullah lah (di Mina pada musim haji)beberapa hari yang berbilang-bilang/ al-Baqarah: Ayat : 198 : Apabila kamu (pada musim haji)telah bertolak dari Arafah,berzikrullah di Masya’ril haram.Dan berzikrullah kamu sebagaimana yang ditunjukkan kepadamu dan Sesungguhnya kamu sebelum itu adalah termasuk dalam golongan yang sesat/ al-Anfal: Ayat 45 : Hai orang-orang yang beriman apabila kamu berperang dengan orang kafir,hendaklah kamu tetap(taqwa) serta berzikrullah lah sebanyak-banyaknya mudah-mudahan kamu beroleh kemenangan/ al-Jumu’ah : Ayat 10 : Apabila telah ditunaikan sembahyang,maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah kurniaan Allah(rezeki) dan berzikrullah lah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung)

    Menjelaskan kepada kita semua bahawa amalan sentiasa berzikrullah itu merupakan amalan kerohanian yang diperintahkan oleh Allah SWT sebagai lambang kesempurnaan hati. Malangnya amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT itu telah diabaikan dan dinafikan keutamaan serta kepentingannya oleh kebanyakan umat Islam dewasa kini akibat menjalani tarbiyyah keimanan berdasarkan kefahaman ilmu sifat 20(Fuqaha) dan Pelbagai Tauhid (Wahabi). Tanpa mereka sedari bahawa ilmu aqidah yang dibangga-banggakan itu sebagai hakikat keimanan itu tidak pernah dibincangkan/dibahaskan/dihuraikan oleh para Ulama/tokoh Islam di zaman para Sahabat r.a,para Tabi’in,Tabi’ut Tabi’in dan para Ulama Khalaf, tetapi tiba-tiba golongan ahli zahir ini membuat pengisytiharan dan menguar-uarkan dikalangan umat Islam bahawa inilah ilmu aqidah yang wajib dipelajari untuk mencapai hakikat keimanan.

    Inilah ilmu-ilmu aqidah yang berkisar di kuliah agama selepas sembahyang fardhu magrib di setiap masjid di seluruh pelusuk negeri sehingga lanjut usia dan beruban rambut di kepala para penceramah dan para pendengar di dalam penghuraian ilmu aqidah yang tiada kesudahan untuk dilonggokkan supaya bersarang pada akal. Seolah-olah ilmu Islam itu ditarbiyyahkan sebagai ‘mental exercise’ yang tidak memberi manafaat pada sudut hati. Inilah bentuk dakwah yang tidak praktikal akibat golongan ahli zahir ini tidak dapat menerima hakikat bahawa hati dan nafsu itu adalah bersifat rohaniah(ghaib) yang tidak boleh di tarbiyyahkan dengan jalan mendengar dan taklim.

    Firman Allah SWT; Surah az-Zumar : Ayat 22 ;Maksudnya,’Maka besarlah kecelakaan(azab seksa) bagi mereka yang keras hatinya untuk berzikrullah. Sesungguhnya mereka itu di dalam kesesatan yang nyata”/ Surah al-Mujadalah : Ayat 19 ;Maksudnya “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa berzikrullah, mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah bahawa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang rugi”.

    Begitulah golongan ahli zahir fahaman tentang alam ghaib yang caca merba dan bercelaru di dalam kekeliruan akibat tidak memahami juzuk akal,hati dan nafsu. Mereka tidak pernah meneliti dan menghitung bentuk tarbiyyah keimanan yang dilalui, adakah mampu segala huraian/fahaman para pendakwah di kuliah agama di sepanjang hayat dan dilonggokkan serta bersarang pada akal apat menjadikan kita khusyuk sembahyang,khusyuk berpuasa,khusyuk mengerjakan haji,khuysuk mencari rezeki,khusyuk berjihad dan segala amal soleh yang dikerjakan seharusnya diiringi dengan hati yang khusyuk. Firman Allah SWT; Surah ar-Radr : Ayat 28; Maksudnya ” Orang beriman hati mereka tenang kerana berzikrullah. Ingatlah bahawa dengan berzikrullah hati manusia akan menjadi tenang”. Firman Allah SWT ; Surah al-A’raf : Ayat 20 ; Maksudnya “Sesungguhnya orang yang bertaqwa apabila disentuh rasukan rasukan syaitan, lalu mereka berzikrullah dan ketika itu mereka menjadi orang-orang yang mempunyai pemandangan (rahmat Allah)”.

    Kesimpulannya: Selagi golongan ahli zahir tidak dapat menerima hakikat bahawa amalan kerohanian/amalan zikrullah mesti dilaksanakan untuk mencapai kesempurnaan hati maka selagi itulah segala masalah keruntuhan moral, gejala negatif, kezaliman, dan keganasan yang berleluasa di kalangan masyarakat Islam hari ini tidak dapat dicegah dibendung. Inilah akibat kehancuran umat Islam masa kini kerana menjalani tarbiyyah keimanan ‘mee segera’.

  82. 1. Sokongsalaf, saudara yang buat articles ini yang menyatakan Ustaz Rasul Dhari membuat penipuan, pernah kah berdebate atau wancara dengan beliau secara terbuka, berdepan dan di videokan? Kalau di balik blogger atau twitter atau facebook saya di sini pun boleh.

  83. ape bendanye ni…aku ni mmg le terlalu cetek ilmunya. ingatkan nak cuba cr ilmu dlm lamam web tp nampak gaya kalau di teruskan boleh semakin goyang ilmu yang ada ni.

  84. URD dah pernah mengikuti byk fahaman sebutla Jamiyah,Asyari,Sufi…..tetapi setelah bermastautin dan belajar di Arab Saudi selama 11 tahun…..itulah hidayah yg diterimanya……manhaj salaf….belajar dari ulama-ulama besar disana…bukan ulama nusantara….jadi fikirlah sendiri….agama turun di bumi arab bukan nusantara yang penuh bidaah,adat dll.

    Wasalam.

  85. Aku cadangkan….jgn gaduh2…nak kepastiann…..jgn belajar hanya merujuk buku tanpa guru…dan jgn belajar hanya dgn seorg guru….jgn taksub dgn seseorg guru…..klu nak selamat..belajar dgn ramai guru….lps 2 cuba buat pbadingan
    Main debat2 dlm nieee……sampai kiamat tak selesaiii….

  86. Assalamualaikum……
    salam sejahtera semua…..terlalu panjang hujah2 dan perdebatan…..tak larat membaca semuanya…..mungkin sedikit perkongsian…..jika kita menyibukkan diri dgn Al-Quran Hadis2 soheh Rasulullah saw (as-sunnah) nescaya kita tak akan berdebat dengan ilmu2 kita yg cetek….jangan sebokkan diri dengan ilmu kalam, tarikat yg berbagai, tasauf yg entah berbagai juga atau apa2 ilmu selain 2 sumber terhebat (Al-Quran & al-hadis) tinggalkan lah ilmu mantik & falsafah akal, tingalkanlah ilmu sifat 20 yg sangat mengelirukan & kembalilah kepada Al-Quran….hentikan perpecahan…orang islam mesti bersatu, tak kira pas, umno atau pkr….melayu cina india atu lain2 bangsa yg telah islam mesti bersatu…..jangan menentang pemerintah, jangan berdemonstrasi, jgn kutuk mengutuk…..esakanlah ALLAH turut ajaran Rasulullah pasti kita berjaya……Amin
    wassalam

  87. Rasul Dahri memang menyesatkan….bercakap pakai nafsu dan ilmu yang cetek. Ramai ulama di sanggahinya macamlam dia sorang yang terer da orang lain salah. Kepada Rasul Dahri pergi masuk sekolah balik, belajar SYSTEM sifat 20 mengenal Allah, jangan main hembus aje….

    Kau dengan Dr Asri Al Wahabi memang mintak kena jotos. Aku yang orang awam ni boleh faham pasal sifat 20, ayat mutasyabihat ,apa itu syirik dan bidaah engkau dua orang putar belitkan kasi orang lain pening.

    Ingat sikit, kak dunia korang boleh putar belit ikut nafsu tapi kak akhirat tak da peluang oiiiiii…

  88. Yang menyesatkan dan memperbodoahkan orang ia lah yang membuat blog in dan kamu…sudah lah bodoh tidak mahu berusaha untuk mencari ilum pengtahuan…sudah lah itu mengfitnah lagi orang…dah lah…cukup lah..kalau u tak ada yang baik untuk dinyatakan tantu lu duduk diam diam aje..daripada omong kosong dan menunjukkan kebodohan u di blog ini. Berapa banyak sudah Hadith hadith yang u sudah baca? Berapa lembar AlQuran sudah you mengerti? Masuk tanads pun u belum tentu ada baca dan bacan tidak lurus inikan mengatakan Ust Rasul Dahari pembohong.

    Kalau nak belawak…masuk aje Raja Lawak…kalau nak ilmu pengtahuan…BELAJAR. Kalau suka nak jadi bodoh…dok diam diam aje..

  89. Salam,

    1. Tiga Tauhid memang wujud dalam Islam;

    2. Tiga Tauhid adalah rekaan para ulama Islam yang amat membantu kita untuk memahami mengenai ilmu Tauhid;

    3. Tauhid Uluhiyyah – ertinya menyembah Allah bila kita taat kepada undang-undang Allah;

    4. Uluhiyyah Manusia – bila kita taat undang-undang manusia ertinya kita menyembah manusia;

    5. Seandainya kita buang sahaja konsep Uluhiyah, kita tetap akan dapati bahawa ayat-ayat al-Quran yang mengatakan taat kepada undang-undang Allah itu adalah menyembah Allah manakala taat kepada undang-undang manusia itu pula ertinya menyembah manusia, tetap masih wujud di dalam al-Quran;

    6. Rububiyah Allah bererti Allah membuat undang-undang manakala Rububiyah manusia ertinya manusia membuat undang-undang;

    7. Seandainya konsep Rububiyah ini dibuang sekalipun, ayat-ayat yang mengatakan bahawa Allah itu adalah Tuhan kerana Dia membuat undang-undang dan juga ayat-ayat yang mengatakan bahawa manusia itu adalah Tuhan-tuhan kerana mereka membuat undang-undang – kesemuanya ayat-ayat al-Quran seperti ini masih tetap wujud di dalam al-Quran;

    8. Konsep Uluhiyah dan Rububiyah bukanlah konsep-konsep yang baru yang sengaja diada-adakan, ianya adalah konsep-konsep yang mempunyai asas-asas yang konkerit di dalam al-Quran;

    9. Konsep-konsep Uluhiyah dan Rububiyah rekaan para ulama kita berperanan untuk membantu kita untuk memahami mengenai erti Tauhid, tanpanya amat menyusahkan bagi kita untuk memahaminya;

    10. Kemungkinan besar tanpa memahami mengenai Uluhiyah dan Rububiyah, akan wujud di kalangan kita yang tidak memahami mengenai kekufuran demokrasi dan kerajaan demokrasi;

    11. Demokrasi adalah kafir kerana ianya adalah didasarkan kepada Uluhiyah dan Rububiyah Manusia yang menafikan Uluhiyah dan Rububiyah Allah dan Laailaahaillallah.

    Sekian, terima kasih.

    Wan Solehah al-Halbani

    Lubuk Terua, Temerloh, PAHANG DM

  90. Astaghfirullah

  91. Astaghfirullahaladzim.. dunia akhir zaman semakin menggila dengan mcm2 khilafiah sehinggalah kesesatan..
    pakat2 berhujah benda2 berat macam ini secara rambang… dlm berhujah sifat2 Allah.. yg mutlaknya Allah SWT jua Maha Mengetahui.. tp pakat2 angkuh saling nafi menafikan..

    akhirnya mengaji sj bab mengenal sifat Allah tp hati tetap jauh dr Tuhan.. ckp hanya bersandar pada ilmu..tetapi lupa kefahaman dan nak mengenal zat Allah Ta’ala itu hanyalah dgn pemberian dan pilihan Allah Ta’ala pada hamban-Nya yang ada taqwa.. ilmu itu sbg panduan shj..itupun kefaham ilmu tetap milik dan pilihan Allah ta’ala.. Islam itu syumul-luas..sbb itulah Allah datangkan kefahaman dan penafsiran yang luas melalui ulama’2 Imam2 Besar Mazhab.. supaay kita beroleh hikmah dan kemudahan..

    tapi bila datang puak sesat Wahabi..dipersonakan kita dgn konon hujah2 yg penuh ilmu..tetapi menyesatkan.. org2 yg tidak kenal mereka akan terpegun..dan akhirnya beritiqad sesat seperti mereka!

    Para sahabat Nabi tidak sesibuk kita berbahasa, tetapi iman mereka hebat.. akhlak dan perjuangan mereka menyebarkan Islam 2/3 bumi.. tapi kita? sebok dgn kerja2 yg memeningkan umat.. tinggalkan kerja2 Islam lain..inilah doktrinisasi golongan wahabi laknatullah!

    Semoga dijauhkan umat Islam tertipu dgn dakyah ejen2 Wahabi dan Syiah ini. AMINN

  92. Astagfirrullah, cuba bawa bertenang, wahai sdra/sdri. Pertama jgn lah kita sesama umat Islam laknat melaknat. Itu kuasa Allah, bukan kuasa kita hamba yg hina dina. ALLAH banyak berfirman dlm Al Quran dan Rasullullah kesayangan kita dlm sunnah/kitab hadith, menyuroh kita banyak bersabar di-dlm beragama. Nabi menyampaikan pesan pada sahabat2,,,,akhir zaman nanti, hanya sedikit saja umat aku yg akan mengikut Al Quran dan Sunnah aku dgn sunguh2. Org2 kafir/yahudi sangat benci pada umat Islam yg benar2 mengikut perintah ALLAH & sunnah nabi. Mereka lah yg memberi nama/title Wahabi kpd. umat Islam yg di-atas ini. Ada pun tujuan org2 kafirin ini, ialah untok umat islam yg lain nya menjauhkan diri dari melaksanakan perintah ALLAH yg termaktub dlm Al Quran yg suci dan Hadith.

    Jangan anda berani menyamakan hamba2 ALLAH yg sunguh2 ikut perintah ALLAH dlm Al Quran dan sunnah nabi dgn mereka yg berfahaman Syiah. atau pun yg nabi sebut kumpulan org2 yg mengaku beragama Islam yg
    72 kumpulan.

    Surah al Maidah, ayat 3. Allah befirman, Nabi menyampaikan, Hari ini Aku(ALLAH) sempurnakan agama mu (Islam). Jika sudah sempurna, kenapa masih banyak yg nak lawan TAUKEH. Kata ikut perintah ALLAH. Cakap cintakan Rasullullah, tapi buat perkara yg baru, yg tak pernah di-lakukan Nabi, sahabat2, tabiin atau tabiut tabiin.Maka di-katakan, ta’pe, inikan bidáah hasanah.(..takde dlm Al Quran dan tak de dlm hadith ),saperti perayaan maulidul rasul, berzanzi,marhaban,tahlil,sambut tahun baru/doa akhir,awal tahun, cukur jambul dsb nya.
    Bila ada yg menegur perkara2 bidáah, maka di-katakan hendak memecah belah kan ummat. Di-sebabkan perkara2 bidáah ini telah di-lakukan bertahun2 lama nya, maka sudah jadi sebati. Bila di-tanya? kenapa kamu lakukan perkara2 bidáah. Jawapan—-aku ikut mak/bapak aku, ikut datok nenek moyang aku—, sama lah bila di-tanya kpd org2 kafir, kenapa kau sembah patung/lembu/matahari dsb nya, jawapan nya sama, ikut-ikutan.

    Boleh baca ilmu agama dari laman internet, tapi tetap mesti berguru. Cari lah guru agama yg berpandu pada Al Quran dan Hadith(soheh). Rasullulah bersabda, umat ku yg beriman dgn kedua kitab, tidak akan sesat, dan mereka ini lah yg akan tergulung dlm kumpulan yg (satu) di-antara pecahan 73 kumpulan.

    Harap maaf, semoga ALLAH rahmati kita semua, inshaallah, amin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: